Membaca dan Menulis
Posted by Badru Tamam Mifka pada 11 Agustus 2007
Diary Badru Tamam Mifka
Kalau engkau tidak punya waktu untuk membaca,
kau tidak punya waktu (atau peralatan) untuk menulis.
Mudah saja. Membaca adalah pusat kreatif kehidupan seorang penulis.
(Stephen King)
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi
selama tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian
(Pramoedya Ananta Toer, Novelis)
Siang nyalang. Segelas kopi hitam. Gerpolek. Mock. Sesak. Rendezvous, juga langit yang tiba-tiba mati… Lalu kusimpan sebuah buku dipangkuan seorang kawan.
“Aku khawatir jika kita terlalu jauh meninggalkan buku-buku, juga kebencian yang berlebih pada buku-buku. Pembakaran buku, anarkisme kolektif, ketidakpedulian pada buku-buku di perpusatakaan yang hampir berdebu…”
Kawanku tersenyum. Tergeragap senyap, dan siapa yang tiba-tiba begitu derasnya merampas hak?
“Saatnya mencintai buku bersama orang-orang. Sebab kelak, seorang penulis akan lahir dari buku-buku, dari masyarakat yang memelihara tradisi membaca..”
1982, atau yang lainnya. Corrupt. Pram, dan segelas batas yang siap ditumpah-pecahkan.
“Lalu menulislah untuk mempertahankan martabat, membela orang-orang, mengingatkan mereka pada tugas dan hak-hak yang dirampas… Membaca adalah pertahanan, Radz, menulis adalah perlawanan!”
2007
Silakan Bagikan:
Entri ini dituliskan pada 11 Agustus 2007 pada 12:31 am dan disimpan dalam Ω Catatan Harian. Dengan kaitkata: Ω Catatan Harian, membaca, menulis. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.