Kemampuan berbicara dan berpidato bagi anak harus ditumbuhkan sejak dini. Para orang tua harus mendukung anak-anak mereka untuk tampil dan terampil berpidato di dalam event yang sering diadakan di tengah masyarakat. Tentu saja jika anak tampil dengan baik di dalam event yang baik pula bagi pendidikan seusia mereka, hal itu sangat positif dan bermanfaat. Kebiasaan tampil, terutama berpidato, akan membangun kepercayaan diri yang tinggi dalam diri si anak. Pada gilirannya, kepercayaan diri itu akan bermanfaat bagi perkembangan mental dan intelektualnya. Kebiasaan anak berpartisipasi dalam event harus diiringi dengan latihan. Berpidato, misalnya, bisa dilakukan dengan latihan membaca, menghapal dan memahami isi teks pidato. Selain bertujuan untuk menguasai dan menghapal teks pidato, latihan itu juga bisa membuat anak memahami dan tetap mengingat ilmu dan pesan moral yang mereka hapal dari teks pidatonya. Nah, berikut ini, saya punya sedikit pidato untuk anak SD/SMP, tentang Tahun Baru Hijriyah. Mudah-mudahan bermanfaat. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk ‘Ω Opini’ Kategori
Membebaskan Rasa Ingin Tahu
Posted by Badru Tamam Mifka pada 25 Juli 2009
Berawal dari Rasa Takjub, Maka Lahirlah Rasa Ingin Tahu
Saya ingin bicara tentang “rasa ingin tahu”. Oke, saya ingin awali topik curhat ini lebih banyak di seputar pengalaman rasa ingin tahu saya pada dunia internet. Saya mulai berkenalan dengan dunia internet ketika kuliah saya semester 4. Pada awalnya saya “terpaksa” pergi ke warnet karena kebutuhan mencari bahan referensi untuk tugas makalah—itupun diantar teman, dan dia yang pegang mouse (sekaligus membayar biaya akses J). Setelah bahan-bahan yang diperlukan didapat, sudah itu selesai. Tapi ah, sepanjang perjalanan pulang, saya merasa takjub pada pengalaman—apa yang saya saksikan—di layar internet. Saya menjelajah dunia maya sekitar 45 menit, dan mengagumi halaman-halaman blog yang penuh warna, dan kelak saya tahu, di sana kita bisa menulis apapun, kita bisa menyimpan photo, video, dan files lainnya—seperti punya hardisk dengan kapasitas yang besar, seperti punya buku diary dengan beribu halaman, yang bisa kita buka di manapun, kapanpun.
Ditulis dalam Ω Opini | 3 Komentar »
Apa sih Sastra?
Posted by Badru Tamam Mifka pada 17 Juli 2009
Orang bilang, karya sastra adalah adalah cermin hati manusia. Ia dilahirkan untuk menjelaskan eksistensi manusia, dan memberi perhatian besar terhadap dunia realitas sepanjang zaman. Karena itu, sastra yang telah dilahirkan diharapkan akan memberikan kita kepuasan estetik dan intelektual. Tapi sampai sejauh ini saya masih terus bertanya, apa sih sasatra? Apa pula karya sastra? Para pegiat sastra memberikan kemudahan pemahaman bahwa kita bisa lebih mudah membedakan mana suatu karya sastra dan mana pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual, berita atau juga opini. Kita bisa lebih mudah menemukan perbedaannya ketika membaca tulisan artikel di media massa dan ketika membaca sebuah cerpen. Di sana, kita bisa membandingkan ungkapan-ungkapan yang bersifat denotatif yang memberikan arti dasar suatu kata (makna tersurat), dan yang bersifat konotatif yang memberikan nuansa khusus (makna tersirat).
Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: Cerpen, karya sastra, prosa, Puisi, Sastra | 8 Komentar »
Memperingati Hari (Kematian) Ibu
Posted by Badru Tamam Mifka pada 22 Desember 2008
Oleh: Badru Tamam Mifka
Ritual Hari Ibu tanggal 22 Desember adalah kado ulang tahun yang sangat istimewa bagi para Ibu. Tapi masihkah istimewa ketika kemudian sang ibu hanya dianggap semacam ”mesin produksi” belaka? Di satu sisi kita rajin memperingati Hari Ibu, tetapi di sisi lain kita hirau dari bertambahnya angka kematian ibu akibat melahirkan. Kita tak peduli, betapa banyak Ibu di negeri ini tak mendapat hak untuk melanjutkan hidup setelah tugas melahirkan selesai ditunaikan. Sekali melahirkan, sudah itu mati…
Bangsa yang besar ini menuntut kaum perempuan untuk melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, tetapi di sisi lain acapkali lalai memberikan jaminan yang layak bagi proses terciptanya generasi bangsa. Bangsa yang besar ini menuntut kaum ibu untuk memenuhi kewajibannya sebagai tulang punggung negara, tetapi di sisi lain tak memberikan hak-hak para ibu dengan baik. Bangsa yang besar ini rajin menggelar seminar di hotel-hotel berbintang dengan biaya besar tentang kondisi kaum perempuan, tak tanggung-tanggung honor pembicara memakan biaya jutaan rupiah, tetapi pedulikah mereka dengan nasib seorang ibu di sebuah desa yang meninggal karena tak mampu membiayai ongkos kelahiran anak yang hanya sebesar 350.000 rupiah?
Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: AKI/ AKB, Ω Opini, Hari Ibu, kematian | 2 Komentar »
Iblis Setitik, Rusak Manusia Sebelanga
Posted by Badru Tamam Mifka pada 21 Juli 2008
Dosa selalu dianggap sesuatu yang di luar, semacam godaan. Tak heran jika iblis atau setan atau apapun namanya, seringkali dianggap kambing hitam atas terjadinya dosa. Iblis dianggap provokator. Ya Tuhan, lindungi aku dari godaan setan dan iblis yang terkutuk. Begitulah doa singkat yang selalu kita ucapkan setiapkali kita sedikit merasa gentar dalam iman, merasa ingin kebaikan dan keteguhan. Lantas sedekat apakah iblis dengan kita? Sedekat hela napaskah? Seperti apakah bentuknya? Semacam hasratkah? Adakah iblis sebagai musuh nyata di luar manusia? Ataukah ia adalah bayangan kita sendiri?
Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: Ω Opini | 2 Komentar »
Agama Kian Panas
Posted by Badru Tamam Mifka pada 24 April 2008
Sebuah Introduksi Islam Santai
Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.
Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka,
tentang apa yang mereka perselisihkan itu.
(QS. Yunus: 19)
Jika di dalam rumah Anda ada dua orang bertengkar hebat, bisa saya pastikan Anda akan pusing mendengarnya dan mulai merasa tak betah tinggal di rumah. Anda akan stress. Barangkali Anda akan mencoba melerainya. Tapi jika pertengkaran itu tak bisa dihentikan, dan Anda malah kena damprat, bisa saya pastikan lagi Anda akan memilih keluar rumah dan mencari tempat yang tenang untuk mengurangi stress Anda. Di saat seperti itu, mungkin Anda akan mengeluh: “Rumahku adalah nerakaku…”
Begitu pun dengan “rumah” bernama agama Islam di Indonesia belakangan ini. Layaknya satu kelompok dengan kelompok umat lain tengah tenggelam dalam “lumpur pertengkaran”. Tentu saja, pasalnya adalah permasalahan klasik bernama: perbedaan pendapat. Bukankah sudah lama kita tahu bahwa bangsa ini masih belum sepenuhnya dewasa dalam menyikapi setiap perbedaan pendapat?
Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: agama, Ω Opini, islam, kekerasan, kerja, pecah-belah, profesi | 4 Komentar »
10 Profesi Idaman Kaum Perempuan
Posted by Badru Tamam Mifka pada 23 April 2008
Oleh: Badru Tamam Mifka*
Pukul 22:15. Malam itu, saya belum tidur. Ketty, kucing saya, tengah asyik nonton tv. Di Metro TV ada program menarik: Metro 10. Malam itu (21/4) Metro 10 membahas tentang profesi-profesi yang paling diidamkan oleh perempuan dewasa ini. Saya ngorejat. Meskipun saya laki-laki, tapi saya ingin tau, apa sih profesi hari ini yang sangat diidamkan kaum perempuan? Jika kamu tertarik, bacalah baik-baik kesepuluh profesi yang diidamkan kaum perempuan di bawah ini…
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: Ω Opini, desainer, dokter, entertainer, guru, ibu rumah tangga, jurnalis, perempuan, PNS, pramugari, profesi, sekretaris, wiraswasta | 2 Komentar »
Dari Minoritas Sampai Ironi Religiusitas
Posted by Badru Tamam Mifka pada 20 April 2008
Sekedar Epilog:
Dari Minoritas Sampai Ironi Religiusitas
(Maklumat “Sang Lalat”)
Oleh: Badru Tamam Mifka
“Agama memiliki sembilan nyawa…” demikian Goenawan Muhammad bicara. Ia tak pernah mati-mati meskipun manusia—atau apapun namanya—menusuknya berulangkali. Bahkan nun di belahan dunia lain konon para sosiolog seperti Peter Berger, Jose Cassanova, dan Rodney Stark percaya bahwa dunia kita bukannya sedang mendekati kepada satu titik yang sekular, tapi justru kepada titik di mana agama-agama menjalani kebangkitannya…
Betapa takjub saya menulisnya kembali, di sebuah taman yang lurus menghadap mesjid besar, sembari saya melihat orang-orang berbondong-bondong dan memenuhi mesjid. Ketika saya sempatkan diri masuk lebih dalam, saya dengar suara orang-orang ramai melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, dan setelah itu bicara tentang pribadi yang takzim pada agamanya yang besar; seperti juga yang kerap saya dengar dari ceramah dalam acara-acara keagamaan. Lalu di tempat lain, saya juga temukan ormas-ormas Islam, partai-partai Islam, komunitas-komunitas Islam, dan lainnya. Ternyata dimanapun orang masih menyimpan ingatan tentang agamanya dalam pelbagai bentuk. Ternyata denyut nadi “agama” masih hidup ditengah arus dunia yang sebenarnya mencemaskan iman. Toh disini keberagamaan umat tetap seksi, riuh dan terkadang hadir berlebihan dalam banyak ragam. Tapi rutinitas keberagamaan acapkali jadi lingkaran yang membuat saya tak bisa menemukan tikungan Islam yang sebenarnya. Banyak umat sudah kehilangan nikmat iman dan mereka melarikan kenyataan itu pada kemewahan mengekspresikan agama. Kita telah begitu jauh mempercantik iman dengan dunia. Harga mahal untuk merayakan ekspresi keberagamaan. Atau muncullah sebuah kecintaan yang berlebih pada agama sendiri: inilah agama yang paling suci, maka sayapun suci. Saya khawatir kecintaan pada diri sendiri dan apapun yang saya miliki menjadikan saya merasa selalu benar. Karena agama saya paling benar. Karena saya bagian dari umat terpilih yang mesti menjalankan amar ma’ruf nahyi munkar, bahkan dengan kekerasan, kemarahan dan ketololan sekalipun…
Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: agama, Ω Opini, ironi, kekerasan, minoritas | Tinggalkan sebuah Komentar »
