mifka weblog

[Ruang Belajar dan Berbagi]

Arsip untuk ‘Ω Cerita Pendek’ Kategori

Cerpen: Hujan dan Puisi

Posted by Badru Tamam Mifka pada 5 Maret 2013

Hujan dan PuisiKetika dulu mereka masih remaja, Amaya bercerita tentang cantiknya gerimis dalam genggaman tangan para penyair. Tentang derai hujan yang lirih mempertautkan hati dan kerinduan sepasang kekasih yang berjauhan. Tentang deras hujan yang berbisik mesra pada dedaun. Tentang air hujan yang manja terbaring di dasar tanah dan yang lainnya berlari lincah menyusuri sungai, menuju lautan. “Rahim bumi dan laut yang luas akan menyimpan air hujan dengan baik, seperti halnya puisi yang menyimpan keindahannya…” Ucap Amaya.

Amaya masih ingat, ketika masih kecil, ia sangat mencintai hujan. Setiapkali hujan turun, Han, sahabat bermainnya, akan menari gemulai di bawah hujan, lalu membuatkan Amaya perahu kecil dari kertas dan daun-daun. Sementara Amaya hanya tertawa kecil di jendela rumahnya, kemudian meminta Han menyimpan perahunya di arus sungai.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Perahu Yang Akan Segera Berangkat

Posted by Badru Tamam Mifka pada 8 Februari 2010

Di sini, berjuta orang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan. Mereka akan bergegas berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia. Perahu besar yang berlabuh setiap setahun sekali, menepi selama sebulan, dan kelak menarik apapun yang menambatkan temali pada tiangnya yang kokoh. Perahu besar itu menampung seribu dewa yang menunggu anak-anaknya. Mereka menunggu, berteriak, bernyanyi, mengeluh, memberi semangat dan menangis.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , | 6 Komentar »

Sentimentil, 19 Oktober

Posted by Badru Tamam Mifka pada 19 Oktober 2008

Cerpen gagal Badru Tamam Mifka

(monolog lelaki patah hati)

Aku bertemu kamu beberapa tahun yang lalu.
Ketika daun-daun terlepas, yang tak lama tumbuh lekas.
Lantas siapa yang mampu menolak jatuh cinta?

Betapa kenangan yang sulit aku hapuskan.
Kelak senja menyahut, dan musim-musim saling bertaut.
Tapi kenapa akhirnya usia cinta kita akhirnya binasa.

Hari ini, mantan kekasihku menikah dengan kawanku (menghela napas). Ah, itu benar-benar amat buruk dibanding ia menikah dengan kakakku. Coba lihat, kartu undangan pernikahan mereka berwarna hitam, sehitam hatiku saat menerimanya; kenapa tidak berwarna putih, kuning atau biru laut?! (marah). Ini malah hitam, seperti semacam darah kambing yang lama mengendap-menebal dan mengering jadi hitam (geram). Hm, tapi apa artinya sebuah warna? (termangu). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , | 4 Komentar »

Catatan Dendam

Posted by Badru Tamam Mifka pada 27 Agustus 2008

Di sana, di pojok sebuah taman, si Pak Tua menulis di buku hariannya, tentang kesedihan cinta, juga tentang dendam:

Aku menerima cukup kesedihan sepanjang hidupku. Di masa kecilku, kesedihan yang paling menyakitkan terjadi setiapkali aku berada di kolam renang. Di usia remajaku, kesedihan yang sangat memalukan muncul setiapkali aku pulang sekolah. Di masa aku tumbuh dewasa, kesedihan itu terasa tajam ketika seseorang yang sangat kucintai meludahi wajahku. Dan kini, di usiaku yang tua, kesedihan itu setiap hari berputar-putar di depan mataku, dan menusuk-nusuk dalam dadaku. Hidup ini penuh kekecewaan…

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , , , | 3 Komentar »

Balada Lelaki Bermata Pisau

Posted by Badru Tamam Mifka pada 27 Agustus 2008

Senja, cahayanya merapat pada batu-batu. Ada jejak yang masih hangat sepanjang jalan setapak. Ada dengus napas yang belum hilang sepanjang ilalang. Di samping pohon-pohon, lelaki itu berdiri di atas batu tertinggi. Rantai masa lalu di kaki kirinya berderak mengeluarkan suara yang pahit. Ia bicara pada angin, pada dedaun kering yang jatuh. Hanya inilah kebahagiaan sementara, selain suara kepak kupu-kupu yang melahirkan banyak sajak di kamarnya yang sempit, kamar pengap tempatnya berlindung dari dunia yang tak pernah selesai mengintai. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , | 2 Komentar »

Di Teras Mesjid

Posted by Badru Tamam Mifka pada 27 Juli 2008

Mesjid terletak cukup jauh dari jalan utama. Dari kejauhan kubahnya terlihat memantulkan cahaya matahari siang ini. Kubah itulah yang membuat aku jadi mudah menemukan arah menuju mesjid. Setelah melewati beberapa kelokan dan gang-gang rumah, aku sampai di halaman mesjid yang luas.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: | 3 Komentar »

Jendela Kamar

Posted by Badru Tamam Mifka pada 21 Juli 2008

Mataku perih setiapkali membaca buku lebih dari 15 menit. Perlahan kututup buku Manusia Yang Dicintai dan Dibenci Allah. Jam menunjukkan pukul 4 sore. Tapi di luar cuaca masih panas. Dari jendela kamarku, terlihat daun kering jatuh dan awan perlahan bergerak. Aku bangkit, menghela napas yang belakangan ini terasa tak nyaman, sesak. Kubuka kalender, angka-angka tak terasa terus berlarian, meski sudah kulingkari. Aku mendengar dari sini suara hilir mudik kendaraan saling bersahutan. Aku merasakan di ruang kepalaku sesuatu yang mengeras, ingin meledak. Kutenggak air mineral. Kurasakan airnya tersekat di tenggorokan. Terdengar suara ayam berkokok di samping rumah, juga burung-burung di pohon dan suara bocah menangis entah dari sebelah mana. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Mereka Yang Menangis di Depan Jenazah Ayah

Posted by Badru Tamam Mifka pada 30 Juni 2008

Hari ini ayahku wafat. Dia ayah yang baik bagiku. Dia suami yang baik bagi ibuku. Dia adalah pahlawan bagi kami semua. Kasih sayang juga perlindungannya yang lembut dan sederhana pada kami, membuatku semakin percaya bahwa cinta adalah sebuah kesempurnaan…

Aku ingat, ketika masih kecil, aku selalu mendapat cerita sebelum tidur. Ada banyak cerita yang menyenangkan, tentang rembulan dan hujan. Atau tentang si kancil dan kura-kura yang berjalan lambat. Betapa hangat aku dipeluknya sebelum akhirnya aku lelap dalam mimpi indah. Tapi semenjak ayah bertugas di luar kota, cerita sebelum tidur itu hanya terdengar seminggu sekali. Tentu saja, selama di luar kota, kami sangat merindukannya untuk cepat pulang. Aku senang ketika setiapkali ayah pulang. Di depan pintu, ia mencium kening ibu dihadapanku, dan mengajak kami makan malam di akhir pekan yang selalu indah.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , | 5 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 300 pengikut lainnya.