Tanda baca titik koma (;) tak lebih populer dari titik (.) dan koma (,). Orang jarang memakainya. Padahal ia sama pentingnya dengan tanda baca yang lainnya. Tak bisa disepelekan. Tanda titik koma (dalam istilah bahasa Inggris: semicolon, secara umum dipakai mulai tahun 1591) adalah tanda baca dengan beberapa penggunaan, terutama untuk jeda pada kalimat dan pemotongan pada suatu daftar. Bila ditempatkan secara tepat, tanda baca titik koma bisa memberi kesan lebih kuat pada kalimat. Jujur saja, saya belum paham dengan pemakaian tanda baca titik koma, dan bingung dalam rangkaian kalimat seperti apa tanda baca itu harus ditempatkan. Saking bingungnya, saya seringkali menyalahgunakan pemakaiannya. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk ‘Ω Soal Bahasa’ Kategori
Diskusi Bahasa: Tanda Baca Titik Koma (;)
Posted by Badru Tamam Mifka pada 9 Maret 2010
Ditulis dalam Ω Soal Bahasa | Dengan kaitkata: Diskusi Bahasa, Tanda Baca, Titik Koma | 8 Komentar »
Awas Kalimat Rancu!
Posted by Badru Tamam Mifka pada 2 September 2008
Kawan saya menulis opini berjudul:
DEMONSTRASI MAHASISWA DAN SBY-JK
“Anu Pak, ini tulisan tentang demonstrasi mahasiswa dan kontroversi kebijakan SBY-JK…” ucap kawan saya pelan. Tapi Kata dosen, ini judul yang rancu. Jadi yang berdemonstrasi itu mahasiswa dan SBY-JK? Lalu siapa yang jadi objek demonstrasi jika SBY-JK ikut demonstrasi?
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ω Soal Bahasa | Dengan kaitkata: Awas Kalimat Rancu, Bahasa, Soal Bahasa | 3 Komentar »
Keluar dan Ke Luar
Posted by Badru Tamam Mifka pada 2 September 2008
Apa kita bisa dengan cepat membedakan kedua kata di atas? Wah, cukup lama saya tertipu oleh kedua kata itu. Bayangkan saja, jika kita menulis dengan kedua kata itu tanpa peduli pada perbedaannya, bisa kacau jadinya. (Hiks, apalagi yang baca ahli bahasa….) Ya, bertahun-tahun saya tak peduli pada perbedaaannya, sampai akhirnya seseorang menegur saya. Lantas, apa perbedaannya?
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ω Soal Bahasa | Dengan kaitkata: Bahasa, Keluar dan Ke Luar, Soal Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar »
Di Atas, dan Dipukul
Posted by Badru Tamam Mifka pada 2 September 2008
Seringkali seseorang menegur saya karena masih saja tak becus memosisikan “di” dalam beberapa tulisan. Unsur di sebagai kata depan atau preposisi yang menunjukkan tempat (di mana, di atas, dlsb.) haruslah dibedakan dengan di- sebagai awalan yang selalu harus dituliskan serangkai dengan kata yang di belakangnya, seperti kata ditendang, dipukul dlsb.
Contoh:
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ω Soal Bahasa | Dengan kaitkata: Bahasa, dan Dipukul, Di Atas, Soal Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tegar=Teguh?
Posted by Badru Tamam Mifka pada 26 Agustus 2008
Dulu, ada lagu yang sangat popular dinyanyikan artis bersuara bagus bernama Rosa. Lagu itu berjudul: Tegar. Lagu yang disukai banyak orang. Bahkan, judul lagu itu seringkali jadi kata popular di masyarakat untuk menyebut keadaan seseorang yang teguh, sabar, pantang menyerah dan semacamnya.
“Meskipun banyak dihina, dia tetap tegar.”
Atau “Dia tetap tegar meski sang suami meninggalkannya selama setahun.”
“Walaupun Asep sudah sebelas kali di tolak cinta oleh Wulan, tapi dia tetap tegar.”
Ditulis dalam Ω Soal Bahasa | Dengan kaitkata: Bahasa, Kamus Umum Bahasa Indonesia, rigid, Soal Bahasa, tegar | 2 Komentar »
Obat Teh Manjur
Posted by Badru Tamam Mifka pada 26 Agustus 2008
—untuk teman-teman urang Sunda
Saya sebagai orang Sunda, masih banyak salah dalam berbahasa, masih miskin kosa kata. Seperti halnya saya sebagai orang Indonesia secara umum, masih sangat jauh menguasai kekayaan bahasa bangsa sendiri. Saya tak rajin membaca kamus. Dalam keseharian di lembur, misalnya, saya seringkali memakai kata “manjur” untuk obat yang benar-benar menyembuhkan.
“Kuring ayeuna mah cageur, obat teh gening manjur pisan.”
“Saya sekarang sembuh, obat ini ternyata sangat manjur”
Ditulis dalam Ω Soal Bahasa | Dengan kaitkata: Bahasa, basa sunda, manjur, Soal Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tegar = Teguh?
Posted by Badru Tamam Mifka pada 11 Maret 2002
Dulu, ada lagu yang sangat popular dinyanyikan artis bersuara bagus bernama Rosa. Lagu itu berjudul: Tegar. Lagu yang disukai banyak orang. Bahkan, judul lagu itu seringkali jadi kata popular di masyarakat untuk menyebut keadaan seseorang yang teguh, sabar, pantang menyerah dan semacamnya.
“Meskipun banyak dihina, dia tetap tegar.”
Atau “Dia tetap tegar meski sang suami meninggalkannya selama setahun.”
“Walaupun Asep sudah sebelas kali di tolak cinta oleh Wulan, tapi dia tetap tegar.”
Saya pun semasa kuliah masih memakai “tegar” untuk sesuatu yang sangat positif, sampai akhirnya seseorang menegur saya. Apa yang salah?
Di Tempo, tahun 2006, Goenawan Muhammad pernah menulis: saya mencoba terus menjaga agar kata “tegar” berarti “keras kaku”. Alasan saya: jika kata itu jadi padanan “teguh”, bahasa Indonesia akan kehilangan kata lain untuk mengartikan “rigid”
Apa arti kata “tegar” sebenarnya? Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) kata itu berarti: “keras kaku,” “keras hati”; “keras kepala”; “tidak mau menurut”.
Goenawan Muhammad menganggap kata “tegar” terjemahan yang bagus bagi kata inggris “rigid”—untuk menunjuk sikap yang tak luwes dan sebab itu kurang baik. Tapi makin banyak yang memakai kata “tegar” sebagai padanan kata “teguh”—yang merupakan sikap yang baik.
Setelah saya tahu arti yang sebenarnya, saya merasa selama ini telah berbuat “dosa besar” terhadap bahasa. Ternyata saya masih belum berbahasa Indonesia dengan benar dan baik. Adakah “dosa” saya yang lain?
Ditulis dalam Ω Soal Bahasa | Tinggalkan sebuah Komentar »