Aku menulis surat ini untukmu, seperti tak pernah bisa bersabar dalam mencintaimu. Tapi inilah cinta, bertahun kata tak juga reda, mendera kita kembali serekah matsnawi dalam gairah rumi. Lalu hilanglah jarak ketika kelak warna kembali pada senja, sebelum kita terpaku untuk rindu yang memilih tak berhenti menganga dalam seribu puisi dan doa. Betapa dahaga jarak ini, sayang, ketika kita masih saja begitu jauh saling betukar mimpi dan keluh kesah, saling memangkas kecemasan atas takdir tentang manusia yang dilahirkan hanya menjadi semacam reranting usia yang gemetar menahan getar cuaca sebelum akhirnya binasa—dan, dengan kecemasan yang sama, kau terus membujukku untuk tak mempercayainya.
Arsip untuk ‘KISAH OBROLAN:’ Kategori
Prosa Senja, Surat Halaman 94
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 5 Oktober 2009
Ditulis dalam Ω Surat-surat | Leave a Comment »
Teror dan Rasa Takut: Surat buat Sukron Abdilah
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 16 Agustus 2009
Membaca tulisanmu: “Amankah Indonesia dari Teror?” membuat saya berpikir tentang rasa takut yang berkembang biak dan hadir begitu dekat dengan keseharian kita. Ya, barangkali kata yang banyak disebut masyarakat hari ini selain kata “uang” adalah: “teroris”. Mereka, teroris, akan dengan tiba-tiba menjalankan aksi teror kapan saja, mempertebal rasa takut kita. Ketika masyarakat bicara teroris hari ini, mereka pasti akan bicara tentang ledakan gedung dan suara bom. Tapi ternyata teror tak hanya tumbuh buas lewat bom, ia bisa terjadi di manapun, dalam bentuk apapun.
Ditulis dalam Ω Surat-surat | 1 Komentar »
15 April: Langit-Mu Terlihat Basah, Tuhan
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 16 April 2009

Sebuah Kisah Kecil di Ebah
Hampir saja saya lupa jika tanggal 15 April adalah hari kelahiran saya. Jika saja seorang teman yang jauh di sana tidak memberitahu saya tiga hari sebelumnya, saya bisa benar-benar lupa melewati tanggal istimewa itu. Saya bilang istimewa karena sepanjang hidup saya tanggal dan bulan tersebut demikian mengatur dan berkuasa atas usia saya. Saya tahu, setiap tanggal 15 April, saya mesti sadar bahwa usia selalu terus berjalan dan saya harus menghitungnya sebagai bentuk lain dari sebuah pertanyaan soal apa yang selama ini telah saya perbuat untuk hidup saya, dan untuk apa yang berada di luar diri saya. Sebab ternyata usia bukan sekedar hitungan angka-angka, tapi juga semacam ukuran untuk menilai sejauhmana perubahan kualitas hidup saya.
Ditulis dalam Ω Kisah Nyata | Bertanda: 15 April, Bahagia, mifka, sepi, sunyi, Ulang tahun, usia | 3 Komentar »
Kekasih Imajiner
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 6 November 2008
Setiap minggu, saya selalu berganti kekasih imajiner. Minggu kemarin “sang kekasih” jatuh pada Meutya Hafid, salah seorang news presenter Metro TV. Perempuan yang cerdas, dan manis. Nah, minggu ini saya tergila-gila pada Maria Ozawa.
Ditulis dalam Ω Obrolan | Bertanda: kecerdasan, kelembutan, Maria Ozawa, Meutya Hafid, Obrolan Ringan | 5 Komentar »
Karmanah
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 21 Oktober 2008
Apakah kau bersuami, Karmanah?
Bertahun menanti langkah sang lelaki di getar tanah
Atau tutuplah jendela, dan selimutilah anak tercinta
Angin sudah menghimpun dingin pada dedaun menjelang malam. Lampu redup, dan suara detik jam meningkahi bayang laron pada bilik-bilik rumah yang bertahun-tahun tak lagi menyelipkan aroma desah cinta. Seperti tak ada waktu lagi menjelaskan tentang seorang pangeran pelindung dalam dongeng-dongeng bagi anak sebelum tidur. Atau tentang ketukan tangan lelaki menjelang maghrib, tentang segelas air putih dan perbincangan serius tentang keseharian anak tercinta. Tak tersisa dalam bahasa, menguap hilang di angkasa. Diam, kelam.
Ditulis dalam Ω Kisah Nyata | Bertanda: Ω Kisah Nyata | Leave a Comment »




