mifka weblog

Blog Pribadi Badru Tamam Mifka

Arsip untuk ‘Ω Kisah Nyata’ Kategori

15 April: Langit-Mu Terlihat Basah, Tuhan

Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 16 April 2009

6a00d8341bf6f553ef00e54f5024ef8834-640wi1


Sebuah Kisah Kecil di Ebah

Hampir  saja saya lupa jika tanggal 15 April adalah hari kelahiran saya. Jika saja seorang teman yang jauh di sana tidak memberitahu saya tiga hari sebelumnya, saya bisa benar-benar lupa melewati tanggal istimewa itu. Saya bilang istimewa karena sepanjang hidup saya tanggal dan bulan tersebut demikian mengatur dan berkuasa atas usia saya. Saya tahu, setiap tanggal 15 April, saya mesti sadar bahwa usia selalu terus berjalan dan saya harus menghitungnya sebagai bentuk lain dari sebuah pertanyaan soal apa yang selama ini telah saya perbuat untuk hidup saya, dan untuk apa yang berada di luar diri saya. Sebab ternyata usia bukan sekedar hitungan angka-angka, tapi juga semacam ukuran untuk menilai sejauhmana perubahan kualitas hidup saya.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Kisah Nyata | Bertanda: , , , , , , | 3 Komentar »

Karmanah

Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 21 Oktober 2008

Apakah kau bersuami, Karmanah?

Bertahun menanti langkah sang lelaki di getar tanah

Atau tutuplah jendela, dan selimutilah anak tercinta

Angin sudah menghimpun dingin pada dedaun menjelang malam. Lampu redup, dan suara detik jam meningkahi bayang laron pada bilik-bilik rumah yang bertahun-tahun tak lagi menyelipkan aroma desah cinta. Seperti tak ada waktu lagi menjelaskan tentang seorang pangeran pelindung dalam dongeng-dongeng bagi anak sebelum tidur. Atau tentang ketukan tangan lelaki menjelang maghrib, tentang segelas air putih dan perbincangan serius tentang keseharian anak tercinta. Tak tersisa dalam bahasa, menguap hilang di angkasa. Diam, kelam.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Kisah Nyata | Bertanda: | Leave a Comment »

Sentimentil, 19 Oktober

Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 19 Oktober 2008

(Sebuah cerita fiksi, padahal bukan)

Aku bertemu kamu beberapa tahun yang lalu.

Ketika daun-daun terlepas, yang tak lama tumbuh lekas.

Lantas siapa yang mampu menolak jatuh cinta?

Betapa kenangan yang sulit aku hapuskan.

Kelak senja menyahut, dan musim-musim saling bertaut.

Tapi kenapa akhirnya usia cinta kita akhirnya binasa.

Grung! Grung! Tidiit! Ngeng! Koran, koran!

Cirebon! Cirebon! Trotototot! Bruuuum!

Cileunyi, Teh! Cirebon, A! Cirebon, A?

Hari ini, mantan kekasihku menikah dengan kawanku (menghela napas). Ah, itu benar-benar amat buruk dibanding ia menikah dengan kakakku. Coba lihat, kartu undangan pernikahan mereka berwarna hitam, sehitam hatiku saat menerimanya; kenapa tidak berwarna putih, kuning atau biru laut?! (marah). Ini malah hitam, seperti semacam darah kambing yang lama mengendap-menebal dan mengering jadi hitam (geram). Hm, tapi apa artinya sebuah warna? (termangu).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Kisah Nyata | Bertanda: , , , | 1 Komentar »