mifka weblog

[ Belajar dan Berbagi ]

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘agama’

Pertanyaan Untuk Allah

Posted by Badru Tamam Mifka pada 24 April 2008

Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar dari sini mereka menyebut nama-Mu keras-keras lalu mereka membakar mesjid-mesjid.

Ya Allah…
Apa yang terjadi dengan umat Islam di negeri ini?
Aku mendengar mereka melukai hati saudaranya sendiri dan tak segan membuat kerusakan atas nama-Mu.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Puisi Indonesia | Dengan kaitkata: , , , | 2 Comments »

Agama Kian Panas

Posted by Badru Tamam Mifka pada 24 April 2008

Sebuah Introduksi Islam Santai

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.
Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka,
tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

(QS. Yunus: 19)

Jika di dalam rumah Anda ada dua orang bertengkar hebat, bisa saya pastikan Anda akan pusing mendengarnya dan mulai merasa tak betah tinggal di rumah. Anda akan stress. Barangkali Anda akan mencoba melerainya. Tapi jika pertengkaran itu tak bisa dihentikan, dan Anda malah kena damprat, bisa saya pastikan lagi Anda akan memilih keluar rumah dan mencari tempat yang tenang untuk mengurangi stress Anda. Di saat seperti itu, mungkin Anda akan mengeluh: “Rumahku adalah nerakaku…”

Begitu pun dengan “rumah” bernama agama Islam di Indonesia belakangan ini. Layaknya satu kelompok dengan kelompok umat lain tengah tenggelam dalam “lumpur pertengkaran”. Tentu saja, pasalnya adalah permasalahan klasik bernama: perbedaan pendapat. Bukankah sudah lama kita tahu bahwa bangsa ini masih belum sepenuhnya dewasa dalam menyikapi setiap perbedaan pendapat?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: , , , , , , | 4 Comments »

Dari Minoritas Sampai Ironi Religiusitas

Posted by Badru Tamam Mifka pada 20 April 2008

Sekedar Epilog:

Dari Minoritas Sampai Ironi Religiusitas


(Maklumat “Sang Lalat”)

Oleh: Badru Tamam Mifka

“Agama memiliki sembilan nyawa…” demikian Goenawan Muhammad bicara. Ia tak pernah mati-mati meskipun manusia—atau apapun namanya—menusuknya berulangkali. Bahkan nun di belahan dunia lain konon para sosiolog seperti Peter Berger, Jose Cassanova, dan Rodney Stark percaya bahwa dunia kita bukannya sedang mendekati kepada satu titik yang sekular, tapi justru kepada titik di mana agama-agama menjalani kebangkitannya…

Betapa takjub saya menulisnya kembali, di sebuah taman yang lurus menghadap mesjid besar, sembari saya melihat orang-orang berbondong-bondong dan memenuhi mesjid. Ketika saya sempatkan diri masuk lebih dalam, saya dengar suara orang-orang ramai melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, dan setelah itu bicara tentang pribadi yang takzim pada agamanya yang besar; seperti juga yang kerap saya dengar dari ceramah dalam acara-acara keagamaan. Lalu di tempat lain, saya juga temukan ormas-ormas Islam, partai-partai Islam, komunitas-komunitas Islam, dan lainnya. Ternyata dimanapun orang masih menyimpan ingatan tentang agamanya dalam pelbagai bentuk. Ternyata denyut nadi “agama” masih hidup ditengah arus dunia yang sebenarnya mencemaskan iman. Toh disini keberagamaan umat tetap seksi, riuh dan terkadang hadir berlebihan dalam banyak ragam. Tapi rutinitas keberagamaan acapkali jadi lingkaran yang membuat saya tak bisa menemukan tikungan Islam yang sebenarnya. Banyak umat sudah kehilangan nikmat iman dan mereka melarikan kenyataan itu pada kemewahan mengekspresikan agama. Kita telah begitu jauh mempercantik iman dengan dunia. Harga mahal untuk merayakan ekspresi keberagamaan. Atau muncullah sebuah kecintaan yang berlebih pada agama sendiri: inilah agama yang paling suci, maka sayapun suci. Saya khawatir kecintaan pada diri sendiri dan apapun yang saya miliki menjadikan saya merasa selalu benar. Karena agama saya paling benar. Karena saya bagian dari umat terpilih yang mesti menjalankan amar ma’ruf nahyi munkar, bahkan dengan kekerasan, kemarahan dan ketololan sekalipun…

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Opini | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Membela Perempuan

Posted by Badru Tamam Mifka pada 7 November 2007

101_4853

Menakar Feminisme dengan Nalar Perempuan

Benarkah perempuan hanyalah subordinate, ataukah ia manifestasi cinta kasih Tuhan? Apakah ke-perempuan-an dank e-lelaki-an mengacu pada organ dan raga (baca: kelamin)? Ataukah sebenarnya jiwa tidak berkelamin?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Jendela Buku | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Surat Untuk Perempuan

Posted by Badru Tamam Mifka pada 13 September 2006

Kawanku, aku tak benar-benar merasa sembuh sejauh shubuh ini. Penyakit yang belakangan menempatiku memang acapkali tak punya banyak sebutan dalam bahasa—ia kerap muncul serentak setiapkali aku ingin banyak menulis, sekedar menyalakan rokok, menatap dan membaca buku-buku, menjalani keseharian yang gelepar dan hingar…

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Surat-surat | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan

Posted by Badru Tamam Mifka pada 21 November 2002

100_2239

Negara tidak pernah ada dan tidak seharusnya berurusan dengan kebudayaan. Karena kebudayaan merupakan seni hidup (the art of living) atau kehidupan sosial manusiawi (human social life) yang terbangun dari interaksi antar manusia; individu maupun kelompok. Kebudayaan dengan demikian adalah representasi emansipasi manusia kea rah yang lebih survive. Intervensi negara atas—meminjam istilah Gus Dur, birokratisasi-kebudayaan hanya akan memutarnya ke arah kebalikan, yakni pembekuan daya cipta masyarakat yang sedang berada dalam perubahan besar-besaran.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Jendela Buku | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 309 pengikut lainnya.