mifka weblog

[Ruang Belajar dan Berbagi]

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Cinta’

Sentimentil, 19 Oktober

Posted by Badru Tamam Mifka pada 19 Oktober 2008

Cerpen gagal Badru Tamam Mifka

(monolog lelaki patah hati)

Aku bertemu kamu beberapa tahun yang lalu.
Ketika daun-daun terlepas, yang tak lama tumbuh lekas.
Lantas siapa yang mampu menolak jatuh cinta?

Betapa kenangan yang sulit aku hapuskan.
Kelak senja menyahut, dan musim-musim saling bertaut.
Tapi kenapa akhirnya usia cinta kita akhirnya binasa.

Hari ini, mantan kekasihku menikah dengan kawanku (menghela napas). Ah, itu benar-benar amat buruk dibanding ia menikah dengan kakakku. Coba lihat, kartu undangan pernikahan mereka berwarna hitam, sehitam hatiku saat menerimanya; kenapa tidak berwarna putih, kuning atau biru laut?! (marah). Ini malah hitam, seperti semacam darah kambing yang lama mengendap-menebal dan mengering jadi hitam (geram). Hm, tapi apa artinya sebuah warna? (termangu). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , | 4 Komentar »

Catatan Dendam

Posted by Badru Tamam Mifka pada 27 Agustus 2008

Di sana, di pojok sebuah taman, si Pak Tua menulis di buku hariannya, tentang kesedihan cinta, juga tentang dendam:

Aku menerima cukup kesedihan sepanjang hidupku. Di masa kecilku, kesedihan yang paling menyakitkan terjadi setiapkali aku berada di kolam renang. Di usia remajaku, kesedihan yang sangat memalukan muncul setiapkali aku pulang sekolah. Di masa aku tumbuh dewasa, kesedihan itu terasa tajam ketika seseorang yang sangat kucintai meludahi wajahku. Dan kini, di usiaku yang tua, kesedihan itu setiap hari berputar-putar di depan mataku, dan menusuk-nusuk dalam dadaku. Hidup ini penuh kekecewaan…

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , , , | 3 Komentar »

Love is a game? Love Me If You Dare

Posted by Badru Tamam Mifka pada 22 Agustus 2008


Film Love Me If You Dare adalah kisa cinta yang fantastik. Sudah beberapa kali saya menonton ini. Entah, tak bosan-bosan. Film yang penuh fantasi, komedi gelap, dan romantic. Film ini diawali dengan kisah Sophie dan Julien kecil yang punya tradisi membuat “game” kurang ajar dengan kaleng komedi putar untuk kegembiraan keseharian mereka. Satu sama lain ditantang untuk “berani” melakukan hal-hal yang memalukan, konyol, kurang wajar, kurang ajar bahkan membahayakan. Setelah mereka tumbuh dewasa, kebiasaan itu merambah pada urusan cinta.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Zero | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Komentar »

Mereka Yang Menangis di Depan Jenazah Ayah

Posted by Badru Tamam Mifka pada 30 Juni 2008

Hari ini ayahku wafat. Dia ayah yang baik bagiku. Dia suami yang baik bagi ibuku. Dia adalah pahlawan bagi kami semua. Kasih sayang juga perlindungannya yang lembut dan sederhana pada kami, membuatku semakin percaya bahwa cinta adalah sebuah kesempurnaan…

Aku ingat, ketika masih kecil, aku selalu mendapat cerita sebelum tidur. Ada banyak cerita yang menyenangkan, tentang rembulan dan hujan. Atau tentang si kancil dan kura-kura yang berjalan lambat. Betapa hangat aku dipeluknya sebelum akhirnya aku lelap dalam mimpi indah. Tapi semenjak ayah bertugas di luar kota, cerita sebelum tidur itu hanya terdengar seminggu sekali. Tentu saja, selama di luar kota, kami sangat merindukannya untuk cepat pulang. Aku senang ketika setiapkali ayah pulang. Di depan pintu, ia mencium kening ibu dihadapanku, dan mengajak kami makan malam di akhir pekan yang selalu indah.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , | 5 Komentar »

Apakah Cinta Itu Ada Atau Tak Ada?

Posted by Badru Tamam Mifka pada 29 Juni 2008

Di suatu malam, saya terbelah menjadi tiga. Dua orang yang keluar dari tubuh saya dan berdiri di hadapan saya. Mereka mirip dengan saya. Kejadian itu menyadarkan saya satu hal: jadilah orang lain, maka kamu akan menemukan ragam penilaian yang penuh kebenaran tentang diri. Maka bersitataplah kami bertiga…

Siapapun yang mengalami hal seperti itu pasti akan merasa asing pada diri sendiri. Ternyata diri kita selama ini begitu luput untuk dimengerti dan diakrabi oleh diri sendiri, seperti halnya dengan nama kita yang jarang disebut oleh mulut kita sendiri. Pernahkah bercermin? Bukankah penilaian pada diri hadir di saat kita menemukan diri kita mata kita sendiri? Kita ternyata lebih mudah menemukan penilaian baik dan buruk terhadap orang lain ketimbang pada diri sendiri. Itu karena kita sudah kadung menganggap baik dan buruk segalanya selalu diukur dari sesuatu yang berjarak dari diri kita. Maka sesering apakah kita menilai diri, mencaci diri, memberi kritik pada diri?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Dialog Imajiner | Dengan kaitkata: , , | 7 Komentar »

Sepasang Mata Kekasih

Posted by Badru Tamam Mifka pada 26 Juni 2008

Dulu, di meja makan itu, kekasihku menghidangkan sepiring kerinduan dan segelas cinta. Rambutnya menawan seluruh waktu, juga ribuan garis hujan. Helai-helainya menjelma tali temali, mengikat hati…
Dan ini kali ia pergi menuju arah tak bernama. Meja makan menyusun aroma sepi sepanjang musim. Aku berkelahi dengan bayanganku sendiri, di bawah lampu-lampu yang hampir mati, tak henti menduga dahaga dan menukar rasa lapar dengan sebungkus puisi yang dikerubungi lalat.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Catatan Harian | Dengan kaitkata: , , | 1 Komentar »

Perjalanan Sejati

Posted by Badru Tamam Mifka pada 2 Mei 2008

Sebuah Soliloqui

Badru Tamam Mifka

Tuhan ciptakan Cinta dari Cahaya-Nya. Seperti yang Ia anugerahkan pada nafas malaikat-malaikat-Nya yang bertasbih dan bersujud dalam kepatuhan yang abadi. Cinta tentang Kesucian dan Kesejatian. Lalu ia ciptakan manusia berpasang-pasangan. Tuhan dapat dengan mudah mempertemukan mereka menjadi sepasang kekasih, seperti juga ia dapat dengan mudah  memisahkan mereka…
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Catatan Harian | Dengan kaitkata: , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tragedi Sayda

Posted by Badru Tamam Mifka pada 28 April 2008

Badru Tamam Mifka

Prolog

Kota yang sepi, setelah orang-orang letih berselisih. Mereka memilih bersembunyi, hanya karena sudah terlalu banyak yang pergi dan rasa takut sudah terlalu kuat mengalahkan segalanya. Tapi ada yang masih terpendam, seperti dendam. Mereka meninggalkan rumah-rumah mereka sendiri, melakukan perjalanan yang jauh dan berpindah-pindah. Mereka dirikan tenda-tenda disetiap mata sungai, dan ketika malam tiba, mereka diam-diam mengintip di tirai tenda, melepas tatapan takut yang bersijingkat mendekati batas-batas tanah sendiri, siapa tahu seseorang akan menawarkan sebilah maut untuk dirinya hari ini…
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ω Cerita Pendek | Dengan kaitkata: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 301 pengikut lainnya.