mifka weblog

10 Oktober 2005

Iman minoritas

Filed under: Ω Opini — by Badru Tamam Mifka @ 8:58 pm
Tags: ,

Esei Badru Tamam Mifka

Ittaqi dakwatul madlu walau kanna kafiran—

berhati-hatilah terhadap orang-orang teraniaya. Walaupun yang teraniaya itu adalah orang kafir.

(alhadist)

Kutulis catatan ini, Saudaraku, ketika manusia sudah tak mau lagi menghargai sesama manusia; yang satu enggan menghargai yang lainnya. Sepanjang perjalanan ini, hati dan pikiran demikian ringkih. Disetiap tikungan jalan, manusia mencabik manusia lainnya, atas nama agama; manusia telah menjadi serigala bagi yang lainnya, atas nama Tuhan. Agama telah dijadikan sebilah belati untuk menyayat-menusuk leher dan dada sesamanya—bahkan mungkin membuat lubang luka yang teramat nganga di dada Tuhan sendiri, sepanjang sejarah.


Disini, perbedaan pendapat dan keyakinan bukan lagi rahmat, Saudaraku, tetapi dilaknat dan khianat. Bukan lagi Ikhtilafi ummati rahmah, tetapi dibakar api amarah. Banyak orang sudah merasa maha benar, menyalahkan dan menyerang yang berbeda pendapat dengan dirinya, mengkafirkan yang berbeda keyakinan darinya. Manusia seolah-olah Tuhan. Kita begitu pongah. Bukankah hanya Tuhan yang patut sombong?

Kita malah bangga banyak menumbalkan “manusia” di altar agama untuk “kesejahteraan Tuhan”. Justeru kita tak sudi lagi bangga menumbalkan “hawa nafsu” di altar agama untuk “kesejahteraan manusia”. Tuhan Maha Kuasa, Maha Sejahtera. Ia bukan rakyat, bukan buruh, bukan budak, hamba, manja apalagi manula—ia tak menjadi lemah tanpa dibela. Lantas kenapa manusia harus saling menyakiti, berperang dan saling melukai atas nama-Nya hanya karena yang satu dianggap bedebah sebagai kaum minoritas? Bukankah manusia itu satu tubuh? Tuhan itu satu?

Dengarlah, Saudaraku, telah hadir orang-orang yang merasa menjadi Tuhan yang bengis dan menempatkan kaum minoritas seperti layaknya hamba yang lemah dan remeh, hanya karena mereka arus yang kecil. Tahun 2005 lalu, hari Rabu, 28 Desember, rumah Lia Aminuddin di jalan Mahoni Jakarta Pusat di kepung warga. Mereka ngamuk dan memprotes penyebaran ajaran Lia yang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah dinyatakan sesat. Mereka mencaci Lia. Sebelum tragedi Lia Eden, di Parung kekerasan beragama terjadi. Ada aksi penyerangan, pengrusakan dan pembakaran terhadap umat Ahmadiyyah. Bahkan di Cianjur, tanggal 19-20 September 2005, 70 rumah dan enam mesjid milik Ahmadiyyah rusak berat akibat ulah sebagian massa yang mengaku sedang menjalankan fatwa MUI. Tragedi itu terus mewabah sampai ke Lombok Timur. Jemaah Ahmadiyyah pun ramai-ramai mengungsi ke luar negeri. Karena di Indonesia sudah tak nyaman lagi, takut dan tersiksa tinggal di negeri sendiri. Bukankah dengan begitu umat Islam di Indonesia sudah berlaku dzalim terhadap saudara sendiri? Namun, alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman umat perusak.

Tak hanya tragedi jemaat Lia Aminuddin dan Ahmadiyyah, tragedipun menimpa kaum minoritas lain seperti fatwa sesat dan kafir yang dialamatkan terhadap Pondok I`tikaf Ngaji Lelaku Malang Pimpinan Yusman Roy, Musdah bersama Tim Pengarus-utamaan gender yang berikhtiar mengajukan pembaharuan Kompilasi Hukum Islam baru dan banyak lagi. Sampai pada fatwa mati seperti yang dilempar untuk Ulil dan kawan-kawannya di Jaringan Islam Liberal (JIL). Masyarakat bereaksi mengeksekusi, buah dari fatwa. Sikap memalukan ini memang berulangkali terjadi sepanjang sejarah keberagamaan. Kaum minoritas dianggap kafir dan diasingkan, bahkan dibunuh seperti Jenar (abad ke-5) dengan ajaran manunggaling kawuka nan gusti; Hamzah Fansuri (1637) yang dianggap mengajarkan faham hulul dan ittihad, seperti Al-hallaj. Mereka semua harus menderita ulah dari agamawan yang angkuh dengan kekuasaannya. Agamawan yang merasa bak “Tuhan”.

Namun, terlepas dari perbedaan pendapat, kita haram merampas hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya apalagi mencoba menganggap ajaran mereka menyesatkan sembari giat melakukan kekerasan dan pengrusakan. Benarkah mereka sesat? Inna rabbaka huwa a`lamu biman dlalla`an sabilihi wa huwa a`lamu biman ihtadza—sesungguhnya Tuhanmu adalah yang paling tahu perihal seseorang yang tersesat dari jalannya dan yang mendapatkan petunjuk, demikian Allah berfirman. Kita sebagai manusia tak layak merasa paling tahu dari Allah.

Selain kita senang aniaya dan mengkafirkan sesama, ternyata kita juga gembira orang lain mati. Ini kali fatwa mati dan hukuman mati tak lagi layak kita imani dalam hukum keberagamaan kita. Itu hukum barbar. Bukankah al-Qur`an berpesan bahwa membunuh satu orang manusia sama dengan membunuh seluruh manusia? Toh Ibrahim pun ketika di titah menyembelih Ismail hanya karena Allah ingin menguji keimanan Ibrahim. Allah sendiri tidak setuju manusia dikorbankan, untuk dalih apapun juga termasuk dalih mencari “ridho Allah” sendiri. Hingga Allah berkata: “Kami tebus Ismail itu dengan seekor Kibas.” Karena Ridho Allah bukan lahir dari tumbal manusia, tetapi dari keikhlasan. Juga cerita agung itu memberi kita pelajaran bahwa hanya menumbalkan hawa nafsu kebinatangan yang Allah setujui ketimbang menumbalkan kemanusiaan.

Kasus-kasus kekerasan tadi memang masih disukai umat Islam Indonesia ketimbang bersama-sama membuat ijtihad dan pembaharuan Islam di zaman gila ini. Alih-alih begitu, malah saling menganggap sesat. Justeru Yusman Roy, jemaah Ahmadiyyah dan kaum minoritas lainnya adalah bagian dari kekayaan & keindahan ijtihad manusia yang berupaya menangkap gelagat firman Allah; yang ternyata setiap manusia tak akan pernah utuh menangkapnya—bukankah kita semua hanya bermain dalam batas-batas tafsir? Bukankan tafsir tunggal terhadap firman adalah satu bentuk kejahatan dalam agama? Fatwa sesat, salah dan kafir hadir pada sekelompok orang hanya karena mereka kaum minoritas dalam beragama. Padahal, seluruh manusia punya hak yang sama dihadapan Allah, termasuk hak menjalankan keyakinan religiusitasnya.

Umat Islam harus mulai merenungkan kembali sikap keberagamaannya selama ini. Apakah kita masih dzalim terhadap sesama? Apakah kita telah berpikir? Addin huwa aqlun, la dina liman la aqlalah—agama adalah pemikiran. Tidak disebut beragama orang yang tak menggunakan pikirannya. Umat yang doyan kekerasan terhadap saudaranya dalam beragama, tentu saja ia tak menggunakan pikirannya. Lalu kapankah kita siap menolak segala bentuk kekerasan dalam agama terhadap kaum munoritas, dan mulai membangun perdamaian dalam beragama. Inna al-din inda Allah al-Islam—sesungguhnya agama yang diridhai Allah adalah agama perdamaian.

Ya Rabb, berikan hikmah dan hidayah bagi hamba-hambamu yang menindas dan hamba-hambamu yang menyuruh menindas. Ya Rabb, selamatkan dan lindungi hamba-hambamu yang tertindas. Amin. []

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: