mifka weblog

13 September 2006

Surat Untuk Perempuan

Filed under: Ω Surat-surat — by Badru Tamam Mifka @ 10:17 pm
Tags: , , , , , , , ,

Kawanku, aku tak benar-benar merasa sembuh sejauh shubuh ini. Penyakit yang belakangan menempatiku memang acapkali tak punya banyak sebutan dalam bahasa—ia kerap muncul serentak setiapkali aku ingin banyak menulis, sekedar menyalakan rokok, menatap dan membaca buku-buku, menjalani keseharian yang gelepar dan hingar…

Kawanku,

Kini aku demikian tak gagah lagi membuat barisan huruf yang dapat mewakili gundah. Penyakit ini menyekapku dan menyulap setiap ruang demikian senyap, hingga dengus nafas dan degup jantung yang seolah-olah terdengar. Suara-suaranya hening seperti instrumen gamelan di pendar-pendar kesunyian. Sepi. Seolah-olah semua yang aku kerjakan, termasuk menulis dan bicara banyak pada orang-orang, menjadi semacam reduksi dan kilas rampas terhadap keseluruhan resah yang begitu buncah dalam dada. Tapi aku ingin menulis.

Kawanku,

Aku juga tahu, ada banyak orang keheranan pada ekspresi murungku, tetapi toh mereka banyak bertanya hanya karena ingin memenuhi rasa ingin tahu saja, tak lebih. Mereka menyimakku bicara layaknya menyimak acara gosip di televisi. Namun kelak aku hanya menyantap ruang murung demi murung sendiri. Ah, aku selalu berharap setiap murung mempunyai kandungan lemak, biar aku gemuk.

Kawanku,

Kujumpai kau berulangkali, seperti banyak kutemui puisi-puisi yang ratap merayap dinding-dinding waktu. Kita yang demikian gemetar mendekap cinta yang demikian pribadi, demikian ngeri. Namun acapkali kusyukuri setiap lenguhnya, keterkejutannya yang cukup mengajari kita bagaimana merapat dengan harapan yang rawan. Tentu saja, dunia pribadi yang menarik kita dari hilir-mudik kehidupan yang lembab.

Sebab apa yang kemudian kita dapat dari repetisi ambisi keseharian? Hanya sekedar linearitas jalan setapak yang memenjara diri dalam alur banalitas hasrat-hasrat tanpa dasar, tanpa sedikitpun mengenal kecemasan. Padahal kecemasan dapat memberi kita gairah pikiran dalam setumpuk suruk dan tetek-bengek tuntutan mekanisme-formal, kesibukan yang bikin bangkai. Ia, kecemasan itu, akan menghimpun kita dalam tegak eksistensi yang mengajari kita bagaimana mengeja huruf-huruf kenyataan yang masih tertutup.

Kawanku

Kapan kita cuti jadi kuda tunggangan dalam hiruk-pikuk kenyataan ini? Bahkan untuk mendefinisikan kesedihan, merayakan tubuh, mengekspresikan kegilaan? Antara kau—perempuan dan aku—laki-laki, ada khayal sosial dan siasat masyarakat. Kelak tumbuh kecambah-kecambah ketidakadilan yang sesak. Di tubuh perempuan, merayap otak laki-laki yang gelap dan semu. Kau berjatuhan tanpa kuasa meraih definisi tentang tubuh. Laki-laki kelak yang akan mendefinisikan tubuhmu. Mereka akan mengerat tubuhmu dengan agama, dengan apapun. ..

Kawanku…

Tentu saja, berawal dari dalil agama bahwa tubuh perempuan itu aurat, maka tak ayal lagidijaga ketat—seperti laiknya Hawa yang dianggap “si Penggoda”; kelak konsepsi relasi gender yang seksis menempatkan apapun yang hadir dari ekspresi tubuh perempuan dan kenyataan tubuhnya dianggap subversif, tabu, berbahaya, bahkan—diranah lain—potensial untuk dieksploitasi.

Kawanku,

Dilema tubuh perempuan akhirnya dikerat-kerat diantara ancaman eksploitasi dan kontrol penjara normativitas yang berlebihan. Di satu sisi, tubuhnya dibungkam, disisi lain dijilati sebagai kenikmatan. Dari dua kondisi itu seharusnya memberikan satu alternatif yang membebaskan, tetapi ternyata kedua ruang itu sama-sama berwatak arogan dan cenderung dipakai untuk memenuhi kepentingan dan hasrat puak berwatak patriarkal.

Apapun akan dijadikan alasan untuk mengubur pertanyaan, perlawanan, dan mengukuhkan status quo, salah satunya dengan memakai legitimasi agama. Agama merupakan “alat” paling efektif untuk membungkam si tertindas dan meneguhkan kondisi yang ada, seolah-olah benar, takdir, seolah-olah kehendak Tuhan… Akibatnya, orang-orang bekerjasama dalam kebohongan dan penindasan.

Kawanku…

Ada banyak waktu bagi kita untuk sejenak menepi, memuntahkan rasa muak dan meluruskan kecemasan seperti sebatang pena, atau sebatang rokok bagiku. Pada akhirnya kita menerima kecamasan ini: fakta menjadi sebuah cermin besar dan kita berkaca memulai kesadaran akan kesendirian. Namun, seolah-olah kita dibentuk sebagai parch tubuh yang mengada lewat parsialitas semesta, padahal ada urat nadi yang menubuh dengan fakta pengalaman dan pengertian keseluruhan dunianya.

Kawanku…

Ada ribuan tanda baca dalam jarak antara kelahiran dan kematian, tetapi toh setiap kalimat yang lengkap dari pembacaan faktisitas dan eksistensi selalu berakhir pada perumusan tanda tanya: denagn pikiran dan kehendak seperti apa kita melibatkan diri mengerjakan kehidupan ini? Sepanjang sejarah manusia, jawaban selalu beragam karena memang setiap manusia punya pengalaman yang ragam dari filsafat dan agama mereka.

Kawanku…

Barangkali kita cukup gegas mengukur rentangan makna dalam pengalaman yang panjang dan kompleks. Rentang antara jarak dari kelahiran sampai kematian itupun akhirnya kelak menentukan jam kapan pengalaman kita memenuhi kedua titik itu.

Dinamika sepanjang jarak tersebut membuat corak eksistensial dan keberlangsungan warna pengalaman, baik positif maupun negatif. Kedua implikasi tersebut menjadi pilihan bagi kita. Namu ragam pilihan akhirnya dibatasi oleh prinsip-prinsip kemanusiaan. Keragaman memang fakta yang tak bisa dibantah, tetapi penghormatan terhadapnya mesti melewati hak-hak yang lebih prinsipil, tentu saja, terkait harkat kemanusiaan dan hubungan yang manusiawi dengan orang lain….


2006


Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: