mifka weblog

10 Oktober 2006

Surat Kecil Buat Kawan

Filed under: Ω Surat-surat — by Badru Tamam Mifka @ 7:39 pm
Tags: , , , , ,

Kawanku,

Aku khawatir kita terlalu jauh menapaki keluh demi keluh. Aku khawatir muram kita membatu, membeku dan kian kelu. Menyadari hal itu aku bergegas menulis beberapa puisi tentang cinta, tentang lelucon, optimisme, gerai tawa, dan harapan-harapan yang gagah. Tetapi, lagi-lagi, aku sering lupa meletakkan apapun. Mungkin puisi-puisi itu jatuh di jalanan atau entahlah. Aku mencari kemana-mana, tak juga kutemukan; padahal malam larut demikian kental. Demikian bengal.

Memang, sesuatu yan membosankan berjalan terus menunduk. Sepanjang jalan aku terus menunduk. Sepanjang jalan aku terus mencari lipatan kertas. Aku mencarinya di tepian jalan, di toilet, di sekretariat, di tong sampah, di taman, di tikungan ingatanku. Aku terus mencari di setisp jslsn ysng beberapa jam lalu pernah kulewati. Lelah, aku bersandar di tembok gedung tak jauh dari mesjid. Tak jauh dari tempatku duduk, seorang lelaki terlihat asyik memainkan handphone. Mungkin ia asyik saling balas SMS dengan pacarnya, atau entahlah. Aku tak perlu tahu. Lelaki itu berkacamata tebal. Aku jadi ingat, dulu temanku berkacamata sangat tebal. Biji matanya di balik kaca seperti biji salak. Banyak juga orang yang mengaggap seseorang yang berkacamata pasti kutu buku. Tetapi di kampungku, ada seseorang yang berkacamata tebal padahal ia buta huruf. Waktu SMA, aku selalu menyangka bahwa guru yang berkacamata tebal pasti guru IPA, atau matematika. Aku juga kerap menyangka setiap guru matematika punya teknik matematis untuk memprediksi cuaca secara akurat. Tapi dulu ada guru matematika berteduh dari hujan. Aku keliru.

Selalu, aku keliru. Tak ada tempat yang aku temui menyimpan puisi-puisi itu. Aku berharap puisi itu terjatuh di tepi jalan; tetapi yang aku temukan hanya sobekan kertas bekas bungkus makanan. Aku juga berharap puisi itu kutemukan di tong sampah, tetapi aku hanya menemukan sobekan kertas dari buku panduan bisnis Multi Level Marketing (MLM). Aku terus berharap menemukan puisi-puisi. Tetapi aku ceroboh. Aku lupa. Barangkali aku lupa. Aku curiga kepalaku hanya punya kapasitas 0MB untuk memori. Aku pelupa, sangat.


Kawanku.

Aku berharap melupakan lembar-lembar puisi itu. Tetapi aku tak bisa. Aku selalu menderita ketika berniat melupakan tulisanku yang hilang…

Oktober 2006 , lewat tengah malam

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: