mifka weblog

10 Juni 2007

Draf

Filed under: Ω Puisi Indonesia — by Badru Tamam Mifka @ 10:32 pm
Tags:

DZIKIR 24

Perempuan,
dzikir ini menziarahi barisan peristiwa
ketika ia patah di setiap paragraf
kehadiran dan rasa sakitnya
Telah berserak ribuan catatan
di pangkuan waktu yang kehilangan Cinta

Langit telah diinjak dan bumi berulangkali
diusung dalam mimpi-mimpi tak bertepi
Orang-orang telah membicarakan kebenaran
dan mengerjakan fragmen-fragmen
kematiannya
Mereka takut dengan hati nuraninya sendiri
dan ketika kesepian mengendap,
kita resah oleh desis angin mengancam
dibalik pintu dan jendela
Telah menang rasa bimbang ketika
kita bersentuhan dengan dingin
kecurigaan tak berkesudahan
Orang-orang yang meragukan dirinya sendiri
dan yang lainnya merubah diri
menjadi kedengkian bagi saudaranya sendiri
Mereka tak lagi gagah menyematkan
rasa percaya satu sama lain

Dzikir ini menziarahi barisan peristiwa
ketika ia patah di seiap paragraf
kehadiran dan rasa sakitnya
“Disana, Saudaraku, kita percayai hati nurani
sebab ia menyimpan kebenaran.”
Temani langkahnya yang gemetar
Suarakan bisunya yang gemetar

DZIKIR 25

Perempuan,
dzikir ini akan menyimpanmu sebagai denyut nadinya
Ia merapat pada hati yang memberinya makna
sebab segala sesuatu yang redup dan
kembali redup pada sumber

Bersitataplah dengan kelahiran
dan kematian yang mengukur usia kita dengan ayat
Maka rangkullah seribu ayat dan hidupi
misterinya dengan Cinta
Dengarlah, kehidupan bicara dilipatan hati yang tenang:
“Saudaraku, jangan bertengkar karena berbeda tanah kelahiran
tempat kaki berdiri
Jangan bertengkar karena berbeda menafsirkan
misteri dan rahasia keyakinan
Jangan bertengkar karena berbeda pintu ketika
mengerti ketuk keyakinan
Jangan bertengkar karena terlalu cinta pada
diri sendiri
Jangan bertengkar karena terlalu takut akan
rasa kehilangan dan harapan
Jangan bertengkar karena terlalu jauh membaca
persoalan dan kekurangan
Jangan bertengkar karena kita lahir
dari sumber yang sama…”
Kita teduhkan hati dan pecahkan luas nganga cakrawala
Pecahkan bayangan kita sendiri

Dzikir ini akan menyimpanmu sebagai denyut nadinya
Ia menapaki degup antara kelahiran dan kematian
menghormati Cinta diantaranya
menghormati Ilmu diantaranya

DZIKIR 26

Perempuan,
dzikir ini mengepakkan kemerdekaannya ketika
kekuatan hati tak pernah meletih menamai waktu
dengan mencari dan menunggu
Barangkali malam telah demikian lengang dan
siang telah berlalu muram untuk ditafsir

Namun, keseluruhan waktu telah mengajarkan
kita mengalirkan air mata
di ladang-ladang jiwa yang kering
Tumbuhlah pohon-pohon ilmu dan makna
kehidupan pun seperti tetumbuhan yang
menggapai cahaya matahari
Disana, tumbuhlah perubahan
Telah kita percayai bahwa menunggu adalah
meyakini datangnya gema-gema sebuah pencarian
Hidup selalu bicara tentang apa yang kita
tanam dan apa yang kita tuai dari dahan kecukupan
Apa yang kau beri jejak hari ini adalah apa
yang kelak kau kau pikirkan kembali
“Dan kita syukuri diri yang berbeda ini, Saudaraku
karena kelak hakikat meminta dua
pemahaman yang berbeda untuk
sampai pada satu tujuan.”

Dzikir ini mengepakkan kemerdekaannya ketika
kekuatan hati tak pernah meletih menamai waktu
dengan mencari dan menunggu
Disana diri masing-masing
akan menerjemahkan hati dan keyakinan
Ia akan menjadi cahaya jika dinyalakan
Ia akan menjadi pengetahuan jika berjalan berdampingan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: