mifka weblog

10 Juni 2007

Draf

Filed under: Ω Puisi Indonesia — by Badru Tamam Mifka @ 11:12 pm
Tags:

DZIKIR 37

Perempuan,
dzikir ini mencari cahaya di kaca telaga
yang menggenangi pilar pikir dan rasa
Hari-hari dan musim telah dipergilirkan
Waktu berganti jadi bongkahan puisi
untuk mencatat gagasan yang mengetuk pintu

Setiap diri akan terkesiap dalam peristiwanya sendiri
ketika setiapkali penempuhannya dihentakkan
bahkan dapat dihancurkan kenyataan
“Itulah putaran hidup, kekasihku, putaran
yang bertanya dengan keasingan misteri
dan desakan kekecewaan.”
Putaran yang liuknya dapat
terbaca tatapan ilmu.”
Bergembiralah, Cinta ilmu menata
pelita dalam pendakian melewati
gelap hidup yang renta.”

Dzikir ini mencari cahaya di kaca telaga
yang menggenangi pilar pikir dan rasa
Hari-hari berlari dan musim
mengirim kegembiraan dan kelengangan
Temuilah ilmu dengan Cinta
Temuilah Cinta dengan ilmu

DZIKIR 38

Perempuanku,
dzikir ini runduk di binar matamu
Ia ingin merangkulmu setiap matahari menusuk hari
dan malam mempercepat hitam
Lalu ia harumkan mawar depan pintu
dan membuka jendela untuk mendengar
kesedihan alam

“Cintailah aku, kekasihku, dan jangan khawatir
dengan Cintamu pada setiap manusia.”
Hingga kita tak melingkar diantara manusia
yang mendustakan dirinya sendiri
–manusia yang tangan dan dadanya tertutup
bagi leluka semesta
Jangan biarkan keangkuhan berkuasa
atas ketulusan berbuat, seperti nyanyi sunyi
yang kelak kita ikhlaskan segenap nadanya
merambat pelan membasuh
jiwa-jiwa yang kesepian

Dzikir ini runduk dibinar matamu
Beningkan tatapnya
agar mata jiwa tengadah menembus langit
Jernihkan tatapnya
agar mata jiwa menunduk menembus bumi

DZIKIR 39

Dzikir ini ruh yang ditabuh
Setiapkali ragaku terlena dan kelak sirna
Gemanya adalah sebuah istirah
Yang memanen ayat-ayat nasehat
Dari kaki langit yang rekah
Dibelah gelisah

“Kekasihku, temani tubuh yang fana ini.
Hingga kelak jiwanya begitu erat mengenal
Aroma kehidupan.”
Enyahkan wajahku dan dekati wajahku
Butalah dari siksa petanda harta
Dan bergembiralah dengan kekayaan jiwa
Kita himpun diri untuk saling
mempertautkan
Retas kesendirian
Agar perjalanan ini kembali membuka makna
Dan larik cinta satu persatu mengubah
Setiap lelah dan keraguannya
Perkasalah jiwa di rumah raga

Dzikir ini ruh yang ditabuh
Setiapkali engkau terlena dan kelak sirna
Ia ingin meleburkan sayap pengharapan
Ketika kabut melecut
Ia ingin menancapkan pijak keyakinan
Ketika kerut menyulut

DZIKIR 40

Dzikir ini berulangkali menyebutmu
dan selaut sepi surut jadi anak sungai kehidupan
Ia mengarus beratus-ratus gemetar
menyepakati tikungan setiap merambah arah
Endapkan langit itu ditanah ini
agar tangan-tangan kerinduan
mampu memilahnya

“Jam kesedihan tak lagi
berjalan cepat, kekasihku.
Teguhkan aku denganmu hingga
Cinta akhirnya pantas untuk dijelaskan.”

Jangan katakan bahwa ketabahan adalah siksa
dan pengorbanan adalah binasa
Sebab aku mencintaimu dengan
penyerahan yang ingin tetap tegap
Maka mewujudlah dalam setiap
kesendirianku

Dzikir ini berulangkali menyebutmu
dan selaut sepi surut jadi anak sungai kehidupan
Lalu kita jahit rasa sakit
dengan bahasa pikiran yang perkasa
Lalu kita basuh sisa lepuh
dengan jejalin bathin yang merdu

DZIKIR 41

Dzikir ini kilas bathin yang takzim batas
Seperti kita yang tak letih memaknai diri
dan mafhum atas ketidaksempurnaannya
Disanalah kita mempercayai hidup sebagai
perjalanan meluruskan harapan dan
mendirikan ketabahan

Betapa selama ini, setiap orang menemui nyeri
yang berbeda memenuhi hak, keinginan,
dan kemerdekaanya.
Di setiap jalan menikung putaran waktu,
setiap orang berupaya mengukuhkan
kehormatan dan harga dirinya,
sekedar mencicipi sedikit pembebasan.
Manusia mampu bertahan untuk apapun
dan gagasan dapat terjadi dengan cara yang berbeda.
Kelak kita selalu mungkin bersyukur pada lebur,
sebab manusia begitu pandai
memberi makna pada sisa binasa.
“Meski berulangkali kita tahu, kekasihku,
kita hanyalah sekerat usia yang demikian
ringkih mencoba memahami sejengkal kekal.”

Dzikir ini kilas bathin yang takzim batas
Ia berharap selalu sempat mencatat hidup
Atau barangkali hidup ini harus dibikin ringkas
agar kita belajar lekas sebelum akhirnya lepas
sebelum akhirnya hempas.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: