mifka weblog

10 Juni 2007

Draf

Filed under: Ω Puisi Indonesia — by Badru Tamam Mifka @ 10:25 pm
Tags:

DZIKIR 15

Perempuan,
dzikir ini menerjemahkanmu di setiap langkah
yang lelah dan sejengkal arah yang resah
Ia bersahutan dengan harapan
Dengarlah, kekasihku,
suaranya menempatkan diri ketika setapak cahaya
mengkuduskan kehadiran

Telah kita ketuk pintu kegelisahan
sebab ia akan mulai mengantarkan kita pada pemahaman:
“kekalahan memang sebilah prasangka yang
melukai kehidupan; kekalahan adalah ketakutan kita
berperang dengan bayangan diri kita sendiri.”
Lengkapi matahari yang berputar dengan api
yang kita raih dari keberanian
Maka berdirilah disampingku menjadi pilar yang lain
hingga memperkokoh bangunan waktu

dzikir ini menerjemahkanmu di setiap langkah
yang lelah dan sejengkal arah yang resah
Jadilah air bagi haus
Jadilah udara bagi hampa
Jadilah puisi bagi kalah

DZIKIR 16

Perempuan,
dzikir ini mengurai usia disekujur Cinta
Telah kau serahkan larik-larik kenangan padaku ketika
kabut mulai menyusut dan angina mulai bertiup lembut
Disinilah kita rangkai awal dan akhir
Kita mulai menyusun waktu dan menyematkan Cinta
Kelak di pusaran hidup, kita sekedar mencari jibril
dan menunggu izrail

Hidup tak mengajarkan kita mempertentangkan arah,
membenturkan iman dan warna kulit masing-masing
Tak juga mendidik kita membangun kenangan tentang
peperangan, penipuan, kemarahan
Sebab keragaman adalah keagungan
Timur dan barat adalah sepasang mata yang jelita
Katakanlah, kekasihku, ambisi dan kebohongan
bukan segalanya untuk merumuskan kehidupan

Dzikir ini mengurai usia disekujur Cinta
Telah kau tegakkan kenangan ini di lubuk ilmu
Ia merapikan bathinku
Ia merapikan bathinmu

DZIKIR 17

Perempuan,
dzikir ini mencatatmu ketika puisi telah dihamparkan
bagi para penempuh yang berulangkali menegakkan
kegelisahan sebagai sebuah pertanyaan
Sebab telah tiba masa ketika perjalanan
akhirnya dikitabkan
Ia telah mengutarakan harapan yang berkelindan
dengan setiap kesepian kaki langit

Kita percaya, satu-persatu kekosongan memenuhi dan
kita meyakini sesuatu yang akhirnya lepas
Maka bekerjalah, kekasihku, mengerjakkan hidup
setelah tak ada lagi yang kuat melukai yang lemah,
melembutkan ucapan dan merawat waktu yang lewat
sebagai keagungan yang disebut dan dihormati
Barangkali tak akan pernah ada kesendirian
yang paling lengkap jika akhirnya kita dapat
mempercayai ada sesuatu yang tetap kita pertahankan
Hingga waktu kian menghaluskan air mata
Dzikir ini mencatatmu ketika puisi telah dihamparkan
bagi para penempuh yang berulangkali menegakkan
kegelisahan sebagai sebuah pertanyaan
Sebab hidup ini perjalanan
Sebab hidup ini pelajaran

DZIKIR 18
Perempuan,
dzikir ini memahatmu ketika hidup ringkih
di setapak isyarat
Lihatlah, kekasihku, hidup memang memberi kita
seribu kesepian untuk bermain dengan gelagat
Tak ada yang kita dapat jika setelah
pintu terbuka kita mulai berpaling dari lanskap
kebenaran yang mengedip perlahan

Ketika waktu memberi restu, kita akan membaca
semua tanda dengan kekuatan yang berpasangan
Kelak kita menemukan dua arah yang mengajari
kita membentuk diri, menyentuh
keteduhan-keteduhan
Dengarlah suaranya yang merdu ketika kita
melepas belenggu bagi orang yang
terbelenggu kesusahan
Lihalah tatapannya yang cantik ketika
kita memberi atap bagi yang meratap dan
membasuh setiap nyeri bagi yang lainnya

Tak ada yang dapat kit abaca ketika hati
dan pikiran tertutup dan redup
Maka kita berpesan tentang Cinta
Maka kita bersentuhan dalam Cinta

DZIKIR 19

Perempuan,
dzikir ini menjadi balada untukmu ketika
pencarian bersilang menerawang sabda-sabda
Hingga kita tak lagi khianat pada yang lainnya,
menghardik orang yang sakit hati dan melukai’negeri sendiri

“Kehidupan ini, Saudaraku, telah meluruskan tangan kita
untuk membuka pintu dengan pelan dan
mempersilakan kepedihan dan persoalan
meriwayatkan dirinya di meja permenungan”
Maka kitapun belajar memuliakan
kepala-kepala yang menunduk
–kepala dengan mata yang sembab dan hati yang nyeri.
Kita meraih mereka yang menangis
dan menempatkan
yang satu di sebelah kiri dan menempatkan yang
lainnya di sebelah kanan—kita merangkul
keduanya dengan peluk keadilan
Kelak kita tengadah ke langit dan menunduk ke bumi,
mendekati kekasih dan tak mencintainya dengan
berlebihan

Dzikir ini menjadi balada untukmu ketika
pencarian bersilang menerawang sabda-sabda
Ia menyingkap gelap
Ia menyingkap lelap

DZIKIR 20

Perempuan.
dzikir ini merapatkan gugusanmu ketika
setiap orang berulangkali mengungkap
malam dan bercengkrama dengan rahasianya
Disana, pemilik bathin dan pencintanya
saling menjaga dan menyalakan kekuatan
di lepuh rasa khawatir

“Dan akan tiba sebuah puii, Saudaraku,
ketika rahasia bukan lagi rahasia,
luka tak lagi terbuka, dasta bukan lagi dusta
dan mimpi tak lagi memendam mimpi”
Disana, diri kita masing-maisng akan
menari sendiri dan terawa bersama
merajuk kesedihan
Sebab lengang kehidupan membuat kita
menangguhkan teriak diam
sebelum jiwa bekerja mengurai gema
Maka, takarlah kerinduan sebagai
tatapan mata kekasih yang menjanjikan
perjumpaan-perjumpaan

Dzikir ini merapatkan gugusanmu ketika
setiap orang berulangkali mengungkap
malam dan bercengkrama dengan rahasianya
Disana, terdengar suara hati
yang tak pernah mati
yang tak pernah berhenti

DZIKIR 21

Perempuan,
dzikir ini menyampaikan harapannya ketika manusia
begitu retak memahami Cinta
Waktu telah menggelar fajar, menggalang siang
dan mengungkap gelap
Ia cukup singkat mendidik kita bergegas menetapkan
sepucuk iman di reranting musim
Jiwa renta ini kerapkali demikian terlambat
mengerti cinta

Diri kita masing-masing akhirnya
sekedar keping-keping di sepanjang perjalanan
Namun setiap pecahan dapat menempatkan diri
di setiap belahan permenungan
Dan kita bersimpuh membenahi seluruh kerapuhan
“Setiap retak pecahan adalah kesedihan, saudaraku,
maka rapatkan ia dengan pecahan ynag lainnya.”

Dzikir ini menyampaikan harapannya ketika manusia
begitu retak memahami Cinta
Dan kita tengadahkan bathin ke langit
sebagai keperkasaan doa dan harapan
Kita tundukkan bathin ke bumi
sebagai sikap rendah hati menerima kenyataan
Kita menjadi gerak yang terus menjadi
digeriap pengertian dan perhelatan
tak kunjung usai
tak kunjung selesai

DZIKIR 22

Perempuan,
dzikir ini bersijingkat lewat kalam yang memperhalus
kalam dan mimpi yang terpejam
Ia menyatukan setiap huruf-huruf kebimbangan
dalam sebuah kalimat yang menyatakan dirinya
di setiap keyakinan

“Jiwa yang utuh, saudaraku, seperti sehelai
puisi yang merentang mempertemukan kemesraan
jarak antara awal dan akhir.”
Kita berangkat dari satu mengeja impian
dan pulang ke satu merangkai kenyataan
Pengertian yang terpisah terhadap perjalanan
adalah gelagat kerinduan akan keindahan
Persentuhan dengan bagian-bagian keindahan
merupakan fitrah membangun kesempurnaan
Kita dibentuk untuk terus bergeriak
Setiap awal menjadi akhir
dan akhir menjadi awal kembali

Dzikir itu bersijingkat lewat kalam yang memperhalus
kelam dan mimpi yang terpejam
Kita lahir dari satu suara yang berakhir pada suara
yang sama: Jadilah! Maka Jadilah!
Dan kematian menjadi sumber kehidupan,
kekalahan menjadi benih perjuangan
dan perpisahan menjadi isyarat perjumpaan
Sebab kita lahir dari Maha Cinta
Sebab kita berakhir pada Maha Cinta

DZIKIR 23

Dzikir itu menjadi saksi ketika
Cinta berulangkali memberi gagasan
Ia menjadi nyala ketika kekuatan
dipecah dan diremehkan

Telah kita mengerti bahasanya sebelum
ia memulai kelahirannya sendiri
Kelak kitapun lahir dengan gemetar
menapaki jalannya yang curam
Dan kelak kemenangan dan kekalahan
hadir dari seberapa kuat kita
menahan perihnya
Dan kita luruskan kepedihan itu menjadi
sebilah pedang untuk mengarahkan
jiwa menuju kedewasaan menatap
Disana, waktupun kita arungi
Kita memungut dedaun gugur dan
mengumpulkannya di sela kitab kenangan
Di masa yang lain, kita akan membukanya
kembali, menghitungnya,
dan mencium aromanya
“Resapi cinta, Saudaraku, resapi kita.”

Dzikir itu menjadi saksi ketika
Cinta berulangkali memberi gagasan
Maka cintapun kita telusuri
Maka cintapun kita syukuri

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: