mifka weblog

10 Juni 2007

Draf

Filed under: Ω Puisi Indonesia — by Badru Tamam Mifka @ 10:16 pm
Tags:

DZIKIR 1

Perempuan,
dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ia mengurai diri dalam keheningan
yang selalu berkata pelan:
“berikan aku suara terbaik dalam
setiap kerinduan yang engkau berikan
dengan tabah untuk seorang kekasih.”

Ia takzim pada setiap gagasan yang
memberi kita sepetak hamdallah
untuk bersujud mensyukuri Cinta
Dengarlah suaranya, kekasihku
–suara yang dapat kita dengar
tanpa telinga, tanpa sedikitpun kebencian

Dzikir ini lahir dari mata hati yang
merapatkan dirinya pada setiap
tikungan bismillah
Ketika ia menatap,
maka ikutilah kemana arah ia menatap
maka pergilah menuju arah ia menatap


DZIKIR 2

Perempuan,
dzikir ini tumbuh ketika cinta merangkum
keluh dan teduh dalam bejana yang sama
Setiap jarak yang diteguk demikian
lengkap menetapkan makna
Kelak ada bahasa yang selalu terjaga
dalam semua musim
Sebab pikiran bertasbih di seluruh pedih
dan ziarah rekah mengukur hikmah

Dzikir ini tumbuh ketika cinta merangkum
keluh dan teduh dalam bejana yang sama
Ia tahu, kekasihku, jika hidup adalah garis-garis pertanyaan
maka setiap garis yang patah dapat
mengajarkan kita merangkai jawaban
mengajarkan kita mengurai kesempurnaan


DZIKIR 3

Perempuan,
dzikir ini berjalan menapaki riwayat dirinya sendiri
Barangkali senja-senja telah berjatuhan dan
mimpi menyusuri setiap tepi kaligrafi bathin kita
yang sepi, yang sunyi
Kesunyian yang menafsir, kekasihku,
selalu berakhir pada pengetahuan
Dan setiapkali keletihan merayapi dedaun usia,
kenanganpun bergumam: “hidup akan
mengajarkan kita menyusuri reruntuhan air mata
dan disaat yang sama mampu menghimpun do’a
dalam cawan-cawan kebijaksanaan.”

Dzikir ini menapaki riwayat dirinya sendiri
Ia telah menerjemahkan hikayat perjalanan
dengan mata yang tengadah dan
kaki yang berusaha tetap menjamah tanah
Kelak ia tahu, kehidupan dan kematian
saling menyentuh
saling berpandangan


DZIKIR 4

Perempuan,
dzikir ini ruku’ dalam setiap raka’at Cinta
Ia melipat lelah, mensyukuri segenap kenangan
dalam setiap istirah

Telah demikian rekah penempuhan
ketika kalbu menuruni waktu dengan khusuk
Ia bersijingkat dalam gelagat hakikat,
menelikung murung dan memecah gairah
Setiap kata rebah dalam jeda dan
kelak makna kembali menemukan arah dalam langkah kita
Batu-batu telah memperuncing waktu
menggarit jerit dalam mimpi yang terpendam
Tetapi api telah dinyalakan
dan jiwa tak lagi sekedar
Iapun berkata: “kebahagiaan, kekasihku,
dapat hadir ketika separuh bentuk hasrat ditaklukkan.”

Dzikir ini ruku’ dalam setiap raka’at Cinta
meremuk angkuh, tunduk pada muasal
sebab rasakanlah semesta
sebab pikirkanlah semesta



DZIKIR 5

Perempuan,
dzikir ini akan membangun surau di setapak kerisauan
Telah kita kerjakan separuh kehidupan
antara harapan dan lengang kehilangan
Anak-anak berlarian menuju bayangan senja
dan daun-daun mulai menguning
Mereka menerjemahkan usia dengan
dada yang memendam langit

Masih belum kita selesaikan separuh kehidupan
Ia memberi kita nama di setiap permenungan
dan berkata: “takdir telah merumuskan dirinya sendiri;
tetapi ia patuh pada tarian yang demikian utuh.”
Mendekatlah, kekasihku,
hidup terlalu nyeri untuk dimengerti sendiri

Dzikir ini akan membangun surau di setapak kerisauan
Ia mencintai pencarian
dalam jatuh dan lekas
meski sentuh dan lepas


DZIKIR 6

Perempuan,
dzikir ini mengalir lewat sungai-sungai
yang bermuara di kelopak mata yang terpejam
Ia menyusuri kesunyian dengan
kata-kata yang telanjang di ceruk nurani
Maka biarkan kesunyian mengajarkan kita
menemukan hidup di jiwa kita sendiri

Dan telah kita temukan mimpi yang panjang
Ia satu-persatu berguguran ketika
setiapkali jarak usai dan keraguan pun selesai
Sebab keangkuhan, kekasihku, lahir di luar
perjumpaan dan kepercayaan
Kelak ia menepuk dadanya dengan selaksa luka-luka

Dzikir ini mengalir lewat sungai-sungai
yang bermuara di kelopak mata yang terpejam
Ia mengutarakan dirinya di sepanjang kerinduan
Ia mencari kehadiran
Ia mencari kesejatian


DZIKIR 7

Perempuan,
dzikir ini menemukan gemanya di kerut waktu yang
menua di beranda kesetiaan
Ia berulangkali menajamkan bayangannya
sendiri di bawah lingkaran matahari
Langkahnya berlari memapah gelisah
dan merapatkan bayang kebimbangannya
Hikmati, kekasihku, hikmati semua kehendak
yang kelak memperpendek jarak keasingan

Dan kita telah bergegas menerka sekujur jejak
yang demikian akrab sebagai sebuah keteladanan
Sebab kesepian yang purba mengajarkan kita
tentang diri yang tak bertepi
dan juga kerinduan setiap diri
untuk saling melengkapi

Dzikir ini menemukan gemanya di kerut waktu yang
menua di beranda kesetiaan
Ia tahu, seperti layaknya segenap hidup yang dapat
dihimpun dalam sebaris airmata
Cintapun dapat merangkum sepenuh keterjagaan
Cintapun dapat merangkum seluruh kebermaknaan


DZIKIR 8

Perempuan,
dzikir ini menjelma alif ketika seribu mata
dan mulut menikam Cinta
Dan ketika lembar hari terbuka, kita hanya dapat
mempercayai suara yang keluar
dari sabda-sabda yang merdeka di gumam dada

Sabda manusia, sabda kita
Ia hanya tersentuh kekuatan firman dan diri
yang demikian hanyut dalam permenungan;
demikian hanyut dalam kelembutan dan kemurnian

Orang-orang yang berkerumun di kurun kabut
telah bermain dengan geliat prasangka mereka
Kepalanya mengukur entah dengan sehelai rambut
Maka mendekatlah, kekasihku, mendekatlah;
Cinta butuh keberanian

Percayalah, diri kita bisa dilengkapi
tapi tak bisa dibodohi
tapi tak bisa dikhianati


DZIKIR 9

Perempuan,
dzikir ini memecah belenggu yang mengikat
pertanyaan-pertanyaan
Ia menembus kabut dan mulut yang terkatup
ketika kata-kata berdusta atas nama Cinta

Orang-orang saling menjerat kepala dan pendapat
dengan temali kekerasan dan rantai keserakahan
Ribuan wayang mengekalkan tidur
di kekalahan takdir yang tersungkur
Bangunlah, kekasihku, setiap diri punya
kemerdekaannya sendiri;
sebab ia terungkap ketika kita tetap terjaga

Dzikir ini memecah belenggu yang mengikat
Pertanyaan-pertanyaan
Sepanjang matahari datang dan senja yang pulang
selalu tanyakanlah Cinta dengan terjaga
selalu kerjakanlah Cinta dengan merdeka



DZIKIR 10

Perempuan,
dzikir ini menyeruak diantara batu-batu
di dasar hati yang jauh;
di dasar hati yang mati, kekasihku,
yang lari meninggalkan puisi yang kalah

Orang-orang kini tak lagi bahagia dalam perbedaan
mereka mengembala serigala dan membiarkannya
lepas menajamkan cuaca prasangka
dan mereka menjadikan Cinta
sekedar daging mentah untuk makanan beribu binatang;
liurnya kental meludahi wajah kemanusiaan

Dzikir ini menyeruak diantara batu-batu
di dasar hati yang jauh
Kini manusia bukan lagi manusia;
mereka saling berpaling dan menjadi tuhan
bagi diri mereka sendiri
angkuhnya mematahkan Cinta
angkuhnya menumpahkan air mata


DZIKIR 11

Perempuan,
dzikir ini mencarimu ketika setiap penempuhan
adalah mempercayai kerinduan sebagai kemuliaan
Disana, kita tak akan mendengar keindahan suaranya,
jika kita tak pernah menyanyikannya

Dan di semua iramanya, kekasihku,
hidup akan memberi kita satu puisi untuk berduka
dan satu puisi pula untuk bahagia
Maka terimalah ia sebagai sebuah keutuhan
yang dijalani
Di setiap tikungannya, kafilah akan menikahi
air mata dengan Cinta dan membuka
pintu-pintu hakikat dengan tangan-tangan Cinta pula

Dzikir ini mencarimu ketika setiap penempuhan
adalah mempercayai kerinduan sebagai kemuliaan
Dan setiap perjumpaan membenahi letih
Dan setiap percakapan menyudahi pedih


DZIKIR 12

Perempuan,
dikir ini menghimpunmu ketika relief-relief kesunyian
dan permenungan mendekatkan dirinya pada keheningan langit
Cinta telah mengajarkan kita
menyingkap hakikat, menata semesta dan
membela manusia

Maka setiap diri yang dihikmati
selalu berakhir melindungi wujud dan
membekali langkah dengan gairah muasal
Sebab hidup kerap berkata: “melukai semesta
hanya akan menyakiti kebahagiaan dan melebur
ketenangan kehidupan.”

Dzikir ini menghimpunmu ketika relief-relief kesunyian
dan permenungan mendekatkan dirinya pada kesunyian langit
Mendekatlah, kekasihku, karena satu manusia
adalah bagian dari yang lainnya
ia akan luka ketika yang lainnya terluka
ia akan bahagia ketika yang lainnya bahagia



DZIKIR 13

Perempuan,
dzikir ini akan menjumpaimu ketika kita bicara
tentang kecemasan dengan hati yang terbuka
Langkahnya demikian ringkih menelusuri terik
dan jejaknya demikian gemetar mengendapkan dingin

Tetapi Cinta, kekasihku, telah bicara banyak
di luar keluh yang lepuh dan kalah yang patah
Ia lebih mengerti apa artinya kesetiaan
Ia mengerti apa puisi terbaik ketika
matahari berulangkali terbit memulai rahasia
Setiap rahasia itu akan mengajarkan kita
menyalakan Cinta sebagai sebuah semangat
menyalakan luka sebagai sebuah kebangkitan

Dzikir ini akan menjumpaimu ketika kita bicara
tentang kecemasan dengan hati yang terbuka
Suaranya menerjemahkan langit sebagai sebuah
ajaran bagi kita untuk memulai kesederhanaan
Luruskan garis kata
Luruskan baris langkah


DZIKIR 14

Perempuan,
dzikir ini menunggumu di persimpangan bathin
Ia memberi ruang kosong diantara
baris-baris huruf yang memulai kesendiriannya
dengan puisi yang tak kunjung selesai
Kelak ia berharap kau menyimpan huruf yang lain;
agar menjadi kata
menjadi kalimat
menjadi do’a

Cinta pada akhirnya akan mengajarkan manusia
untuk meraba dirinya sendiri dan mendengarkan kehidupan
yang akan berkata: “berdirilah atas nama Cinta dan percayailah
bahwa diri masing-masing dapat saling melengkapi.”
Masih ada, kekasihku, masih ada setiap kesetiaan
melengkap dalam kerinduan yang utuh dan
keyakinan yang tak lagi rapuh

Dzikir ini menunggumu di persimpangan bathin
Ia mempercayaimu sebagai separuh air mata
untuk menanggung duka
Ia mempercayaimu sebagai separuh kalimat
untuk menuliskan keindahan sebuah perjalanan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: