mifka weblog

20 Juni 2007

Draf

Filed under: Ω Puisi Indonesia — by Badru Tamam Mifka @ 11:13 pm
Tags: ,

DZIKIR 42

Dzikir ini menghikmati karya sebagai
muara kenangan, gagasan dan
kegelisahan
Ia merawat usia yang lewat ketika
kefanaan hanyalah desah kehilangan

Kita ingin mencatat detik, menit, jam, angin
dan dingin kerinduan.
Sebab hidup yang terasa singkat ini
barangkali butuh semacam harapan keabadian.
Sebab ia merantau dari lampau menuju
ke arah yang tak terjangkau.
Setiap barisan huruf selalu bicara
tentang kemesraan hidup yang cukup.

Berjalanlah dengan langkah yang tak lagi resah,
dengan diri yang mandiri
“Kekasihku, setiap orang tak layak menganggap diri
dan yang lainnya seperti sisa abu
Sebab ia punya kenangan disetiap alinea waktu…”

Dzikir ini menghikmati karya sebagai
muara kenangan, gagasan dan
kegelisahan
Tanam keindahan disetiap
ingatan zaman
Tinggalkan rindu yang merdu
di ujung usia
Agar benih-benih berlatih membaca jalan
Agar tunas-tunas tangkas mempeta tanda

DZIKIR 43

Dzikir ini mewakili makna
ketika kita berulangkali lahir dalam sepetak tanda
Lihatlah, betapa selama ini, cinta begitu
cantik berhuruf-huruf, bermacam gagasan,
penuh inspirasi, berkecambah bermeter-meter
dalam ranah bahasa

“Kekasihku, kita demikian takzim pada cinta ini.
Engkau yang mendekap cinta, aku menganggapmu
sebagai gema yang baik menyahut do’a-do’a…”
Setiap cinta acap perkasa, selalu, cinta kian perkasa
meski tanpa diminta.
Sungguh, kehidupan seperti celah huruf-huruf
yang dirapatkan dengan sedikit jeda
yang renggang, agar kita mudah bernafas.
Sebab setiap penempuhan terhadap segala sesuatu
selalu menempatkan plot keletihan.

Dzikir ini mewakili makna
ketika kita berulangkali lahir dalam sepetak tanda
ia mencerna yang tertunda
Ia menata yang terlunta


DZIKIR 44

Dzikir ini mengutipmu dalam kerinduan
Ia menyimpanmu ketika malam
tersekat diantara dingin dan selembar
kekuatan yang meluruskan
barisan huruf untuk bersitatap—demikian terasa lengkap.
Ia seperti nyanyi sunyi yang begitu berat
menerima berakhirnya malam dalam
kisi-kisi kerinduan yang tenggelam.

Barangkali ini sunyi, barangkali ini sejengkal nyanyi
Sejauh rengkuh, harapan mengajari kita
bekerja keras mencari cara terbaik
menilik sesuatu yang terbalik.
Sebab acapkali kenyataan lebih
banyak bekerja diluar perencanaan,
dan harapan memang tak selamanya aman
Kita belajar menggelar teduh bagi seluruh duka yang lain
dan segarkan langit-langit bagi kegembiraan yang lain
“Mendekatlah, kekasihku, aku hanya mungkin
berharap menjadi mata ketika kau letih menatap;
menjadi telinga bagi pendengaranmu yang lelah;
menjadi mulut ketika ucapanmu gugup;
menjadi kaki bagi langkahmu yang ringkih.
Dan engkau, sebagai tempat aku menunduk
ketika kesedihan mengetuk,
ketika lelah buncah, dan kesepian
kian mengerikan…”

Dzikir ini mengutipmu dalam kerinduan
Ia mengukuhkanmu dalam rencana waktu
Ia meneguhkanmu dalam makna bertemu

DZIKIR 46

Dzikir ini menggetarkan reranting usia
di dahan-dahan kehidupan
Betapa Cinta menghibur kita seperti
ribuan musim yang melata
Lalu ia menggugurkan dedaun hari
juga tiba-tiba menumbuhkan beberapa arti
Dan kitapun mengukur rentang umur, kemudian
mengukur rasa syukur

Disana, hitungan usia adalah hitungan jiwa
yang mesti beranjak bijaksana
Sebab hidup ini lebih berkuasa satu bahasa
diatas batas bahasa kuasa kita
Selalu, kekasihku, menunduklah jika langit
akhirnya lebih biru dan tinggi dari renta mimpi kita
Kekasihku, dzikir ini menggetarkan reranting usia
di dahan-dahan kehidupan
Betapa hidup memerlukan
penyerahan diri dan kerelaan
Disana kita bekerja dan berkarya sebelum senja
Dan bila malam tiba, kita pertautkan doa dan rencana
Duduklah menyerap isyarat hari kemarin dan sabarlah
Berdirilah menatap gelagat hari esok dan tegarlah

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: