mifka weblog

16 November 2007

Tangisan Mengerikan

Filed under: Ω Cerita Masa Kecil — by Badru Tamam Mifka @ 12:16 pm
Tags: ,

—Tahun 90-an. Tasikmalaya.

Konon, ketika saya berumur 7 tahun, saya pernah menangis sangat mengerikan seharian. Saya ingat sedikit, ketika itu pada mulanya saya dibisikkan oleh beberapa orang lelaki yang lebih tua dari saya, tentang satu nama yang sangat asing. Tentu, bukan UFO atau kapal terbang. Tapi, (maaf) v-a-g-i-n-a (selanjutnya dapat dibaca V) J. Mereka kakak-kakak satu pengajian dengan saya dulu. Mereka yang bicara keras, mencuri jambu dan menghisap rokok. Sumpah mati, ketika itu saya tak tahu apa yang mereka lakukan. Saya hanya tahu bahwa mereka pandai tertawa dan saya takjub pada asap yang keluar dari mulut mereka, seperti asap dari cerobong kereta api…

Begitulah, mereka membisikkan nama yang sangat asing, dan mereka menyuruh saya memintanya dari kakak perempuanku yang mereka bilang cantik. Mereka sebut nama asing sekali lagi, dengan tangan menunjuk arah bawah pusarnya, lalu ia mengacungkan jempol dengan tawa yang renyah. Mereka menyebut nama kakakku. Mereka tertawa-tawa, saling dorong satu sama lain, dan saya berjingkrak ikut gembira.

 

Dalam kepala kecil saya ketika itu, saya hanya tahu bahwa saya tengah membayangkan sebuah makanan yang lezat atau sebuah mainan yang bagus dan barangkali sengaja disembunyikan kakak perempuanku dibawah perutnya. Sepanjang jalan pulang, yang saya tahu saya ingin V. Sampailah saya di rumah, dan keluarlah permintaan itu: saya ingin V dengan ledak tangisan saya yang konon, sangat mengerikan. Tak seperti ketika saya meminta uang jajan, permintaan kali itu tak pernah dikabulkan. Saya malah dapat kemarahan yang panjang dari ibu dan kakak perempuanku. Saya hanya dapat jeweran seperti laiknya jeweran ketika saya menghabiskan makanan kesukaan kakak saya di lemari kamarnya.

 

Saya menangis seharian, konon sangat mengerikan, dan mereka—kakak-kakak saya—menceritakannya kembali. Saat mendengar kembali cerita masa kecil itu, saya malu bukan kepalang. Dan tahukah kalian, tangisan saya yang mengerikan itu tiba-tiba berhenti ketika kakak saya benar-benar memperlihatkan apa yang saya mau. Ia memperlihatkannya dengan wajah merah menyala. Ya, wajah yang sangat marah.

 

(Jika hari ini saya bertemu pemuda-pemuda berandalan itu, saya bersumpah akan mencaci maki mereka. Karena mereka mengajarkan saya melecehkan kaum perempuan…)

 

Tentu saja, ketika itu ibu saya bilang sambil tertawa, bahwa punya kakak tak enak dimakan dan ia akhirnya memberikan uang jajan yang lebih besar dari biasanya. Dengan syarat, saya dilarang menangis dan segera tutup kuping jika pemuda-pemuda berandalan itu bicara jorok. Lho, bicara jorok itu apa?

 

Tapi ketika itu saya mengangguk pelan. Lalu kakakku menambahkan bahwa V adalah lubang ular, dan ketika itu saya begitu takut mendengarnya. Ah, jika seandainya ketika itu yang meminta bukan anak sekecil saya, tetapi pemuda-pemuda berandalan itu, tentu kakak saya akan bilang: ini milik sah suamiku…Lho, suami? Nama asing apa pula itu? Apakah dia seekor ular? []

 

Ditulis tahun 2007

1 Komentar »

  1. kwkwkwk,,kocak juga ceritanya

    Komentar oleh zain — 1 Maret 2012 @ 6:04 am |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: