mifka weblog

22 November 2007

Ketika Senja Menuju Tua.

Filed under: Ω Catatan Harian — by Badru Tamam Mifka @ 8:14 am
Tags: , , , ,

Catatan Harian, 12 September 2006, 01:34

Ketika senja menuju tua…
Hari ini aku tenggelam dalam diam. Aku tengah bersentuhan dengan kesedihan…

Aku memang menggunakan bahasa diam untuk mengungkapkan kesedihan. Orang bilang diam adalah bahasa, tetapi begitu ambigu; itu sebabnya ini bukan bahasa ketika aku tidur, karena tidur tidak ambigu, tidak memberikan dua kemungkinan makna.

Aku tidur memang tak bicara. Bukan kehendakku tak bersuara ketika tidur, bukan pilihanku.


Engkau mungkin membuat kesimpulan bahwa aku sedih adalah kehendakku, adalah pilihanku; mungkin engkau menganggap kesedihan bermain dalam kotak subjektivitas; artinya, setiap orang dapat memilih untuk sedih dan tak sedih, setiap hari., meski sedih karena sekedar membaca masa lalu misalnya, atau tak sedih hanya karena membaca masa depan yang belum terjadi.

Aku memang menggunakan bahasa diam untuk mengungkapkan kesedihan. Mungkin diam untuk memelihara pikiran yang cukup renta tetapi masih lumayan bekerja. Itu sebabnya aku membedakan bahasa diam dan tidur, maka aku menghormati anggapanmu bahwa tidur adalah bentuk eskapisme dari masalah. Tapi aku tak jarang mengajukan resistensi dari tikaman prasangka orang lain. Aku tipikal orang yang bekerja keras mencari apologi dari peluru pemdapat orang lain.

Jika kau menganggap tidurku sebagai bentuk eskapisme dari masalah hidup, bahwa masalah akan tetap 100% setelah aku bangun tidur, pendapatmu benar! Tapi aku pikir otak butuh istirahat.; dan aku khawatir pikiran melulu mencumbu repetisi; artinya, aku enggan mengulang-ulang bentuk pikiran yang sama, yang kelak akan meledakkan kepalaku…; aku khawatir ledakkanya mengganggu orang lain, mengganggumu…; lebih baik aku tidur.

Aku akan menganggap tidur sebagai bentuk minimal dari “kekacauan-sosial”. Bahwa kemudian ketika bangun tidur masalah tetap 100%, itu soal lain; toh setelah otak istirahat, kau yakin, ia lumayan energik menjawab teror 100%, mudah-mudahan.

Aku memang ingin diam ketika aku sedih, ketika aku marah, ketika aku kecewa…

Atau aku ingin tidur. Jika kau tak terlalu paham tentang “kekacauan-sosial”, maksudku, ekspresi kekecewaan atau kemarahan dari kesedihan memang akan mengganggu suasana, jadi lebih baik aku tidur,, jika aku sudah cukup menjalami keseharian dan kesedihan dengan bahasa diam.

Aku memang menggunakan bahasa diam untuk mengungkapkan kesedihan dengan bahasa diam. Atau tidur. Ekspresi kemarahan dalam bentuk apapun akan melahirkan “gap” dalam pergaulan—setidaknya itu menurut kebanyakkan laki-laki—

Justru kaum perempuan tidak terlalu khawatir dengan ekspesi kemarahan laki-laki, tidak sebaliknya. Lelaki punya kekayaan metodologi dalam merayu, tetapi perempuanlah yang akhirnya punya efisiensi dan efektivitas untuk merayu, meski miskin metodologi.

Konon, sebelum peradaban manusia lahir, Adam melakukan berbagai cara dalam merayu Tuhan, sekali lagi, dengan berbagai cara! Tapi Hawa dengan satu pelukan! Hanya! Tapi aku tak begitu suka dengan mitos picisan itu.

Aku begitu mencintai bahasa diam—seperti bahasa diam yang aku temukan ketika kau tengah membaca buku, ketika kau menulis. Diam, tetapi berpikirlah, membacalah, menulislah…

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: