mifka weblog

8 Januari 2008

April Yang Kecil

Filed under: Ω Cerita Masa Kecil — by Badru Tamam Mifka @ 8:38 pm
Tags: ,

April yang kecil, mereka telah bermimpi tentang seorang lelaki yang punya otot kaki yang liat untuk memanjat dinding-dinding doa, juga siluet dan seabad senja…Alkisah, aku tak menangis ketika dilahirkan. Bukan, ini bukan kisah ajaib. Tapi inilah cerita ibuku:
Beberapa menit setelah adzan shubuh, tanggal 15 April 1983, aku lahir ke dunia ini. Ketika itu beliau sedang memberi kakakku susu sapi. Usia kehamilan 9 bulan. Terasalah perut ibu sedikit mulas dan beliau merasakan sesuatu keluar dengan mudah dari wilayah tubuhnya bagian bawah. “Ibu tak menyangka saat itu ingin melahirkanmu, Nak…” Pada mulanya beliau menyangka telah buang air besar (aku tersinggung mendengar kisah bagian ini). Aku anak yang lahir dengan ukuran tubuh yang kecil: sebesar lengan orang dewasa! (Engkau boleh membayangkan tubuhku ketika itu sama kecilnya seperti boneka Barbie…)

Angka di kalender pun jatuh, seperti daun di rahim musim. Angka yang menyimpan ingatan tentang seorang ibu yang mengukir usiaku di sprei yang dingin menjelang shubuh. Angka yang menyimpan kenangan ketika pertama kalinya aku jatuh cinta pada gelak tawa dunia, senyum, rasa gembira juga hangat air mata…

Tapi betapa terkejutnya ia ketika terlihat ada sesosok jabang bayi tengkurap tak bersuara di bawah (maaf) bokongnya (hiks, seperti setumpuk kotoran). Saking kaget, takut dan sedihnya, beliau berteriak-teriak minta tolong (seperti teriakan seseorang ketika rumahnya dirampok maling!). Berbondong-bondonglah tetangga merangsak masuk. Ibu menyangka si bayi telah mati. Mereka menyangka si bayi gagal hidup. Tak ada satupun orang yang berani membalikkan tubuh bayi yang berlumuran darah. Sampai beberapa menit kemudian, datanglah seorang perempuan tua asal Banten yang berani membalikkan posisi tak menguntungkan si bayi. Barulah, setelah bayi terlentang, terdengarlah tangisan perdanaku di dunia ini…

“Ma, apakah kelahiranku menyakitimu?”

Engkaupun akan tahu, aku tak membuat ibu menderita ketika melahirkan. Karena, sekali lagi, beliau (hanya) merasakan seperti membuang kotoran perut. Hm, berbeda dengan kakakku yang ke-3 (perlu kalian tahu, ibu punya anak 4–Anak perempuan hanya 1). Si Kepala Besar itu membuat ibu kesakitan ketika melahirkannya. Bayangkan saja, kepalanya yang besar itu membuat proses kelahirannya berjalan 6 jam lamanya! Ibu mana yang tak gentar jika mengalami proses kelahiran seperti itu? Jadi, aku selalu menyuruhnya minta maaf dua kali lipat dibanding aku he… (Sekedar info: kelak sampai saat ini kakakku tak pernah pake peci hitam, lha wong tak ada peci yang punya ukuran yang berjodoh dengan kepalanya. Cari saja peci dari Sabang-Merauke, engkau tak akan menemukan peci yang relevan dengan kepalanya yang besar itu…

Aku lahir dari sepasang kekasih yang bertukar cinta…

Ibuku lahir di Tasikmalaya. Bapakku di Cianjur. Entah dimana mereka bertemu dan memagut cinta (aku tak berharap dulu Bapakku seorang pelaku sindikat perdagangan anak perempuan yang jatuh cinta dan menikahi korbannya, karena usia mereka berjarak 11 tahun. Engkau boleh membayangkan saat itu Bapakku seorang pemuda yang tiba-tiba tergoda sama anak SD!). Tapi, bukankah cinta tak memandang usia?

Siapakah yang kembali mengingatkanku pada sebuah kota yang membuatku gemetar? “O kotaku, bocah kecil ini, telah meninggalkan kau…”

Beberapa tahun membesarkan aku, mereka membawa anak-anaknya hijrah ke luar kota. Saat itulah petualangan bapak dimulai: bapak berpindah-pindah kota. Hal itu membuat anak-anaknya punya catatan pengalaman pendidikan SD yang berpindah-pindah. Aku tak tahu apa yang bapak cari saat itu sehingga ia begitu mudah berpindah-pindah kota. Apakah ia mencari kenyamanan tempat tinggal? (Hm, aku tak berharap ia seorang teroris yang diburu kepolisian, atau seorang suami yang sibuk mencari isteri baru di banyak kota he…) Tapi petualangan itupun berhenti. Bapak sekeluarga menetap cukup lama di kota Sumedang. Kami mulai hidup seperti biasanya. Kami anak-anak mulai tumbuh besar, mulai mencari arah cita-cita. Aku, si anak bungsu ini, punya cita-cita–si anak yang tak disangka dapat selamat hidup di dunia ini. Cita-citaku banyak. Bukan, bukan banyak, tapi setiap satu bulan setengah cita-cita sering berubah. Bulan ini bercita-cita jadi penulis. Di bulan yang lain ingin jadi pelukis. Di bulan yang lainnya lagi ingin jadi fotografer. Di bulan selanjutnya ingin mati… Selalu berubah-ubah!

Lalu cuacapun dipergilirkan, juga usia. Harapan dan kenangan saling bersentuhan. Ada mimpi dan sepi berulangkali minta dimengerti. Ada keluh menyahut gaduh. Ada cinta mengeja makna. Tapi siapakah aku? “Tasikmalaya adalah rahimmu.”
“Bukan, rahim sejatiku adalah ibu.”
“Disanalah tanah kelahiranmu.”
“Tanah kelahiranku adalah bumi”
“Saudaramu yang tinggal disana.”
“Saudaraku adalah seluruh manusia.”
“Disanalah tempatmu kembali.”
“Tidak, tempat kembaliku adalah Tuhan…”
Tanya juga dibawa-bawa, merindukan sehela khalwat pada hakikat. Lalu, Tuhan, ajari aku menafsir makna dunia dengan gelagatmu sebagai cara lain untuk mencintaimu, juga seluruh manusia…

Tapi aku mafhum, barangkali aku masih muda untuk berubah-ubah. Aku masih tercatat sebagai mahasiswa. Ssst…jangan bilang-bilang ibuku, aku mahasiswa yang termasuk sulit kelar kuliah. Sembunyikan saja namaku. Dan percayalah! Meski pada mulanya adalah kera, demikian Darwin mengungkapkan tesis ilmiahnya tentang geneologi manusia, tapi aku sama denganmu, lahir dari rahim seorang ibu yang lembut….

3 Komentar »

  1. lucu…oya,sepertinya kang mifka ini ingat betul dengan jeritan ibu2 yg memergoki maling ya…(coz,di 2 tulisan kang mifka ini ada penggambaran jeritan itu)….well,nice story…
    oya,ada akun di facebook kah??

    Komentar oleh tifa latifah — 9 Juni 2009 @ 3:42 pm |Balas

  2. it’s funny, but still meaningfull.

    Komentar oleh sari — 24 Februari 2011 @ 2:58 am |Balas

  3. menginspirasi,,good

    Komentar oleh zain — 1 Maret 2012 @ 6:58 am |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: