mifka weblog

15 April 2008

Surat Lima Belas April

Filed under: Ω Surat-surat — by Badru Tamam Mifka @ 9:49 pm
Tags: ,

Hijrah Menuju Kesunyian
–Untuk Al

Al, kutulis surat ini hanya karena aku sudah tak mampu lagi menyimpannya dalam halaman-halaman perasaanku ini. Tentang kenyataan hidup kita, Al. Tentang ikatan napas kita bersama orang-orang tercinta yang terasa begitu kecil dalam pusaran raksasa kemewahan dunia ini.

Bagiku hidup ini terlalu rahasia, Al. Seringkali aku ingin menumpahkan air mataku hanya karena telah begitu letih menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup ini; hanya karena tak tahu bagaimana lagi aku harus menumbuhkan kerelaan untuk melangkah. Usiaku sudah mulai bertambah, seiring bertambahnya juga hitungan peristiwa dan orang-orang yang masuk dalam catatan hidupku. Tapi apa sebenarnya yang telah berubah? Waktu justru seakan-akan menghapus ingatanku tentang satu hal, dan menghadirkan hal lain yang lebih sulit. Hidup benar-benar terasa seperti lingkaran yang sangat asing bagiku…

Al, aku ingin menyelesaikan semua persoalan ini. Aku ingin hidup tenang. Tetapi selalu saja tak kunjung bisa, hanya karena aku tak mampu mengeluarkan banyak jawaban yang nyata; hanya karena aku tak percaya diri menjalani keseharian dan tanggung jawabku.

Aku memang sempat mengingat segalanya, Al. Masa silam yang teraba begitu saja, membuatku menemukan rasa sesal dan kecewa yang sangat dalam. Aku gagal melahirkan anak-anak bernama kenangan dan pengalaman. Ingin sekali aku demikian rapat menyembunyikan apapun yang membuatku sedih, tapi selalu saja tak bisa. Ingin sekali aku menyimpan kesedihan ini dengan tabah, seperti juga orang tua yang sebenarnya demikian bertahan bertahun-tahun menyembunyikan kesedihan dari anaknya. Tapi yang terjadi padaku, keinginan untuk menyembunyikan kesedihan itu justru hanya keluh kesah panjang yang menghabiskan waktuku untuk mulai menjalani hidup ini dengan baik.

Al, aku ingin meninggalkan semua ini. Aku ingin pergi ke tempat yang benar-benar baru; tempat yang tak sedikitpun pernah merekam kehadiranku sebelumnya. Aku ingin benar-benar seperti bayi yang baru dilahirkan, dan memulai hidupku dari awal. Tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukannya, kalau memulai mencari cara untuk pergi dengan tenang saja aku tak bisa.

Aku tak betah tinggal di setiap ruang yang sudah begitu dekat kukenal, Al. Selalu saja muncul keinginan untuk berjalan bebas tanpa beban, menempati banyak ruang baru dan menikmati banyak kejadian. Aku malu dengan keadaanku sekarang. Aku kecewa dengan kenyataan ini. Tapi ternyata rantai kenyataan ini masih begitu kuat membelenggu kakiku. Selalu butuh biaya yang mahal untuk menebus kebebasan, untuk menebus kemerdekaan, untuk menebus kemenangan. Aku tahu, kenyataan ini menjadi teramat pahit bukan hanya karena aku begitu lama terpenjara dalam kenyataan ini, tetapi karena aku begitu banyak mengecewakan dan menyakiti orang-orang yang sangat aku cintai…

Al, aku benar-benar telah mengecewakan perasaan dan pengorbanan mereka. Aku takut kenyataan ini masih belum banyak menemukan perubahan, sementara mereka satu-persatu akan pergi tanpa hati yang puas melihatku berhasil dalam setiap peristiwa kemenangan.

Aku sudah lelah dipukuli mimpiku sendiri, Al. Aku bosan menutupi luka dengan luka baru. Sudah lama aku menyederhanakan setiap keinginan ke dalam bentuk yang sangat-sangat sederhana, tapi yang terjadi aku malah kehilangan segalanya. Aku seringkali berpikir kenapa aku dihadirkan diatas panggung kecemasan seperti ini? Aku kerapkali berpikir kenapa aku dilahirkan dalam kepingan dunia seperti ini? Tapi aku sadar, kenyataan ini adalah karya tanganku sendiri. Tujuan selalu diciptakan dari rangkaian proses. Tapi kenapa manusia tak punya kehebatan dapat memutar-ulang waktu? Penyesalan selalu berdiri di satu tempat, dan jalan keluar berdiri di tempat lain. Jarak yang jauh, direntang-rentang, malah semakin sakit. Setiap perbuatan selalu mengakar ke semua arah dan menacap kuat di tanah masa silam. Lalu dimanakah letak kebebasan?

Al, aku telah menghabiskan separuh hidup ini dengan berjalan mundur. Setiap akibat selalu tak pernah kulihat. Setiap pertimbangan selalu tak terlebih dulu dipikirkan. Aku tak becus mencium lubang hitam perjalanan. Aku terjerumus! Terperosok! Aku malu dengan setumpuk ketololan ini. Aku seperti seorang pelacur diatas sajadah belas kasihan!

Aku telah menghabiskan waktu hanya untuk belajar mencerca kenyataan, Al. Segala macam penyakit telah melemparku ke dalam rimba ketakutan dan keraguan menghadapi dunia. Telah kulewati waktu diantara hangar-bingar omong-kosong orang-orang. Telah kupungut hidup diantara hilir-mudik keangkuhan dunia. Aku terseret-seret diantaranya. Umurku tergilas di dalamnya. Cintaku diinjak-injak diantaranya. Rumah megah impianku digusur oleh kekonyolannya sendiri, dirubuhkan oleh kenyataan yang ada. Aku dibakar di ruang keterasinganku sendiri. Dunia berjalan lebih cepat meninggalkan impianku. Aku dicabik-cabik oleh rasa keterhinaan mengeja kalimat panjang sebuah kerumitan dunia. Aku dihimpit jeritku sendiri. Aku diejek ketidakmampuan, diejek ketidaksehatan.

Al, hari-hariku terasa pendek dan nyeri. Kusandarkan ia pada doa dan keberuntungan hari esok. Kalau-kalau…ah, selebihnya memang hanya menghemat kesedihan tanpa sedikitpun menguranginya. Ingin sekali aku menjalani sisa masa muda ini dengan lantang, berpaut dengan keriuhan bumi. Tapi ternyata hanya kesunyian yang ada. Hatiku sudah mati rasa pada hiruk-pikuk dan hura-hura. Hingga tiba saatnya aku hanya percaya pada dua kawan, yaitu ketenangan dan kesunyian.

Inilah aku, Al. Inilah aku yang akan mengisi sisa usia dengan gemetar. Hanya melakukan sesuatu yang aku bisa, meski menelantarkan banyak hal yang lainnya. Inilah aku yang menimang kekalahan dengan kedua tangan. Barangkali aku akan tenang hanya dengan memindahkan kekalahan ini ke tempat yang lain. Aku tak tahu, beberapa bulan ke depan, atau beberapa tahun ke depan, jika kenyataan ini masih begini, kepergianku akan dimulai. Hidup memang punya tikungan yang tak bisa kita tebak. Seperti juga hitungan tentang usia. Bukankah setiap hitungan ke depan yang sudah kita ketahui angkanya belum tentu akan terhitung? Karena kematian—direncanakan atau tidak—akan membawa kita kembali pada kekosongan.

Al, dunia ini sangat mahal. Seperti juga rasa penyesalan yang teramat mahal kutebus. Aku tak pernah berpikir bahwa keberanian adalah segalanya. Selalu saja ia menjadi kepingan diantara kepingan-kepingan yang lain. Aku memang terlalu buruk telah merusak separuh kebahagiaan kita. Aku tak becus memberikan kebahagiaan pada kehidupan kita yang sempit ini. Aku hanya bisa merampok pengorbanan dan keikhlasan orang-orang yang sudah mulai renta memikul usia dan harapannya, tanpa sedikitpun aku memberi mereka kebahagiaan.

Aku tahu tak ada perubahan, Al. Tapi aku punya satu perubahan yang kian tajam dalam jiwaku, yaitu dendam pada hidup. Perasaan itu kian tumbuh dalam dadaku. Aku tak tahu dendam itu kelak menjadi apa. Apakah ia menjadi kemenangan atau justru kekalahan yang lebih hitam, aku tak tahu. Tapi aku mulai merasakan, kesunyian telah menungguku, di ujung jalan itu. Dan kelak tiba waktunya aku akan meninggalkan segalanya, termasuk apa yang benar-benar sangat aku cintai. Ada saatnya aku mesti membuang seluruh kenangan dan kebersamaan, hanya karena mesti kembali pada pengertian bahwa diri ini sesungguhnya adalah puisi tentang kesendirian…

Salam,
Badru Tamam Mifka

Sumedang, 15 04 2008
Di Hari Ulang Tahunku

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: