Betapa serius aku berdoa. Tengah malam lewat. Melawan kantuk, juga dingin dan sepi. Betapa panjang doa ini, sampai akhirnya suara Tuhan menyapaku…
“Tumben berdoa, Bung,” godanya. Aku cuma mesem. Salah tingkah.
“Ah, tapi kamu gak jauh beda sama hamba-hambaKu yang lain, mau deket aku kalau ada maunya. Kalau gak butuh mah, boro-boro ingat…” ucapan Tuhan mulai bernada sinis. Grrghh, suara jibril menggeram, menatapku tajam.
“Bukan begitu, Tuhanku, kemarin-kemarin aku banyak banget… pekerjaan…”dalihku gugup.
“Maksudmu, kemarin-kemarin bisnis kamu lagi bagus, sekarang lagi mampus?! kemarin-kemarin kamu lagi seneng, sekarang lagi puyeng?!” Tuhan mulai meninggikan suaranya beberapa oktaf. Grrghh, geram Jibril terdengar lagi. Aku makin resah. Seorang kekasih bisa saja aku kibuli. Tapi Tuhan? Ah…
Suasana hening sejenak.


“O ya, Tuhanku, apa kabar kamu?” tanyaku basa-basi, untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Ah, jangan sok akrab!”
Aku makin gelisah. Makin resah. Kalau-kalau…Ah!
“Kamu itu ya, kayak kaum elit pejabat di negerimu saja, ingat rakyat kalau jelang pemilu, kalau ada butuhnya aja…” Tuhan tertawa terbahak-bahak. Jibril disampingnya terkekeh berat.
“Plis, Tuhanku, jangan kamu membuatku terus jadi hamba yang tak percaya diri. Kita ganti saja topik pembicaraan…” ratapku memohon.
“Ok. By the way, denger-denger di negerimu banyak koruptornya ya?” tanyaNya. mendengar itu, jiwa mudaku bangkit.
“Benar, Tuhanku! Korupsi di Indonesia makin menjadi-jadi!”
“Kamu juga korupsi kan?”
“Gak dong! Aku benci korupsi!” sanggahku.
“Maksudku, korupsi yang lain gitu. Korupsi waktu, misalnya. Ada waktunya kamu harus ibadah padaku, tapi malah dihabiskan dengan aktivitas dan kesenangan-kesenangan duniamu. Bukankah itu juga korupsi?” ucapnya sembari melirik Jibril. Yang dilirik menahan tawa.
Aku lemas. Cemas.
“Sebentar, Bung, aku lihat-lihat dulu catatan-catatan amal kamu…” ucap Tuhan. Terlihat ia mengangkat gagang telepon.
“Munkar! Nakir! Coba kalian kirim catatan amal makhluk berkode: 1017051504830005 th. 2008, dari Indonesia, negeri yang penghuninya pada beringas itu lho!”
Tak lama kemudian, faximile berbunyi dua kali dengan nada yang panjang. Hatiku makin tak tenang. Tuhan terlihat memeriksa dua lembar kertas di tanganNya. Ia tampak menggelengkan kepala. Tak lama ia menatapku tajam.
“Intensitas pendekatanmu padaku cuma dapat nilai C. Konsistensi ikhtiar dan kesalehanmu juga dapat nilai C. Tahun ini rapormu merah!!! Pantas saja doamu disconnect!” bentak Tuhan.
Oh may got! Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!

Juni 2008

About these ads