mifka weblog

29 Juni 2008

Apakah Cinta Itu Ada Atau Tak Ada?

Filed under: Ω Dialog Imajiner — by Badru Tamam Mifka @ 3:39 pm
Tags: , ,

Di suatu malam, saya terbelah menjadi tiga. Dua orang yang keluar dari tubuh saya dan berdiri di hadapan saya. Mereka mirip dengan saya. Kejadian itu menyadarkan saya satu hal: jadilah orang lain, maka kamu akan menemukan ragam penilaian yang penuh kebenaran tentang diri. Maka bersitataplah kami bertiga…

Siapapun yang mengalami hal seperti itu pasti akan merasa asing pada diri sendiri. Ternyata diri kita selama ini begitu luput untuk dimengerti dan diakrabi oleh diri sendiri, seperti halnya dengan nama kita yang jarang disebut oleh mulut kita sendiri. Pernahkah bercermin? Bukankah penilaian pada diri hadir di saat kita menemukan diri kita mata kita sendiri? Kita ternyata lebih mudah menemukan penilaian baik dan buruk terhadap orang lain ketimbang pada diri sendiri. Itu karena kita sudah kadung menganggap baik dan buruk segalanya selalu diukur dari sesuatu yang berjarak dari diri kita. Maka sesering apakah kita menilai diri, mencaci diri, memberi kritik pada diri?

Ada kalanya kita begitu angkuh dan tegap di hadapan orang lain, tapi di saat yang lain kita diam-diam begitu lemah dan mudah terhasut orang lain. Itu artinya kita ternyata tak bisa sepenuhnya mencintai diri sendiri dan tak juga sepenuhnya dapat diperbudak orang lain. Seringkali saya selalu belajar untuk menjadi orang lain bagi diri sendiri. Maksud saya, diciptakan sedemikian rupa keadaan seolah-olah saya tengah berdialog dengan diri sendiri. Seperti juga tokoh-tokoh fiksi yang saya ciptakan sendiri, dan pada gilirannya mereka menjadi lawan bicara saya. Disana saya membiarkan tokoh-tokoh imajiner itu punya otonomi kesadaran. Saya biarkan mereka memilih selera, pendapat dan imajinasi yang berbeda dengan diri saya.

Justru dialog seperti itulah yang membuat saya berada dalam posisi yang menyenangkan. Saya seperti menemukan banyak “orang lain” dalam novel yang saya ciptakan sendiri. Berdialog dengan orang lain dalam arti sebenarnya, misalnya, selalu berakhir buruk. Disana saya tak jarang memosisikan sebagai “orang paling benar” bahkan di saat dialog belum dilakukan sedikitpun. Saya kadung dilingkupi ribuan prasangka jauh sebelum segala hal terjadi. Itu artinya saya hampir seratus persen memutlakan diri menjadi protagonis dan jarang memberi kemungkinan bagi lawan dialog saya untuk benar. Tak hanya itu, seringkali dialog dengan orang lain menimbulkan konflik yang pada gilirannya merubuhkan akal sehat.

Di suatu malam, saya terbelah menjadi tiga. Dua orang keluar dari diriku, maka kubiarkan mereka jadi apapun. Kubiarkan yang satu menjadi rembulan, dan kubolehkan yang lainnya menjadi bintang. Kubebaskan yang satu jadi Munkar, dan yang lainnya menjadi Nakir. Kuciptakan yang satu menjadi iblis, dan yang lainnya menjadi Tuhan. Kuberi kemerdekaan yang satu menjadi malam, dan yang satunya lagi jadi cahaya. Mereka kuciptakan untuk menemaniku berbagi cerita. Mereka kuminta untuk mengajukan pendapat dan membicarakan banyak persoalan eksistensial. Mereka kulahirkan menjadi teman dan lawan dialog yang menyenangkan dan penuh perhatian. Tentu saja, teman dan lawan dialog yang sulit kutemukan di alam nyata.

Percakapan selalu berjalan tenang dan mengalir santai. Maka satu dari dua orang yang tengah duduk dihadapanku berkata:

“Berbahagialah jika kita dicintai. Karena ingatan dan kerinduan orang yang mencintai kita adalah doa. Semakin banyak orang mencintai kita, semakin banyak doa mereka menjaga hidup kita. Maka bersikap lembutlah…”

Saya mengangguk pelan dan mengalihkan pandangan pada yang lainnya. Maka berkatalah ia:

“Cinta itu seperti bangunan yang megah, tapi sewaktu-waktu dapat pecah dengan mudah. Bukankah kemegahan itu nyatanya hanyalah gambar di permukaan kaca—kaca khayalan yang tak datar. Disana kita, dunia ini, seolah-olah terlihat besar; padahal sesungguhnya hanyalah ilusi. Kalaupun kita merasa begitu sulit menghapus jejak cinta dalam hati, itu hanya karena kita begitu bodoh menerima kenyataan bahwa cinta sebenarnya telah menipu kita…”

Saya kembali mengangguk pelan. Saya beri mereka waktu yang banyak seperti halnya saya punya jatah waktu yang banyak untuk membuat keputusan.

“Cinta adalah kejahatan konsepsi, atau semacam pembodohan. Boleh dibilang rayuan utopis. Atau modus murahan dari proyek raksasa bernama penindasan, hasrat, hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan serakah. Jangan biarkan dirimu mabuk tak berdaya karenanya…Hari gini kamu masih percaya cinta pejabat pada rakyat? Uh, kamu juga masih percaya kata-kata cinta dari mulut manis sang kekasih, lagu, filsafat, syair, film, dongeng dan buku-buku? Banyak orang berlindung dalam konsepsi cinta hanya karena mereka ingin menyembunyikan bahwa sifat dan keinginan mereka sangat buruk. Cinta itu sesungguhnya tak ada. Hanya ilusi. Yang ada hanyalah naluri munafik dan penipuan yang halus…Kamu sudah terlalu lama dibelenggu cinta. Kamu kehilangan banyak hal, kehilangan hakmu, kebebasanmu, hanya karena terlalu memuja cinta. Kamu rela berkorban dan menyakiti diri hanya karena terlalu lemah mengikuti cinta. Kamu merelakan segalanya hilang karena godaan cinta. Cinta adalah musuh yang menyamar di rumah hatimu. Ia membiusmu. Apa kau menyangka mereka mencintaimu? Tidak. Mereka bohong. Hati mereka sebenarnya sangat buruk. Mereka menggunakan cinta untuk kepentingan-kepentingan gila diri mereka. Kekasih? Omong kosong. Mereka tak butuh cinta. Mereka hanya merampok apa yang berharga dari diri kamu; harta, misalnya. Jika kamu tak mampu memberi mereka dunia yang mahal, maka kamu akan menyadari betapa cinta ternyata tak pernah ada dalam sejarah manusia. Cinta hanya membodohimu bahwa hubungan dengan orang lain hanyalah semacam bentuk eksploitasi yang panjang. Tak ada cinta, yang ada hanyalah uang dan kekuasaan… ”

Dan yang lainnya mendapat giliran:

“Cinta itu baik. Hidup yang baik lahir dari hubungan yang penuh cinta. Cinta itu baik, yang buruk adalah manusia yang tak mampu memahami dan mengerjakan pesan hakikatnya. Tak heran jika ada orang mengatakan cinta itu kata-kata kosong, toh mereka tak mengisinya dengan perbuatan. Cinta dapat menyelamatkan banyak hal. Belajarlah mencintai dengan melepas banyak kepentingan dan ambisi untuk lebih dicintai. Mencintai lebih penting dari dicintai. Tapi mencintai adalah langkah awal untuk dicintai. Jika kita tulus mencinta, maka dengan sendirinya kita akan mudah dicintai orang. Hubungan baik lahir karena cinta yang baik. Perbuatan baik lahir karena kita menjalani cinta dengan baik. Apa jadinya jika dunia ini kehilangan cinta? Karena cinta mengajari bahwa segala hal dapat berharga dan tak pantas untuk disakiti. Ia mengajari kita bagaimana membahagiakan orang lain. Cinta menuntun kita menjalani hidup dengan baik. Cinta pada makhluk hidup, cinta pada keseluruhan semesta, cinta pada Tuhan, akan menjadikan kita manusia terbaik, akan menjadikan hidup dan dunia ini ruang yang tenang dan menyenangkan. Kacau dunia ini jika tak ada cinta. Pembunuhan, kebencian, penindasan, dendam, kerusakan, kebodohan, ketidakadilan, kejahatan, adalah hal-hal akibat tak adanya cinta. Atau jika persoalanmu ditolak seseorang yang kamu cintai, itu tema sepele. Hal yang lebih penting adalah mencintai kehidupan. Itu akan membuatmu punya harapan yang lebih baik untuk tetap hidup dan tak bunuh diri karena kekecewaan, misalnya. Jika kamu malah kecewa karena ditolak cinta, maka itu artinya kamu masih memahami cinta sebatas kulit luar saja. Seperti juga raga sebagai pembungkus, jiwa dan cinta ternyata lebih penting. Ia inti kehidupan…”

Saya jadi penyimak yang baik. Mereka terus bicara:

“Ah, jangan terlalu berlebihan memuja cinta seperti itu. Orang seumur hidup mencari cinta, tapi tak berjumpa, karena cinta tak pernah ada. Yang ada adalah kesenangan karena hidup tak miskin, banyak uang, isteri cantik, pekerjaan yang memuaskan dan kedudukan. Berterima kasihlah pada uang, bukan cinta. Orang hidup karena uang, bukan cinta. Hidup butuh ongkos, butuh biaya, bukan cinta. Cinta adalah kekuatan? Ah, bohong. Yang ada hanyalah kekuatan yang lahir dari keinginan dan ambisi untuk menang, berhasil, sukses, dapat uang, aktivitas seks yang sempurna, dan kesenangan-kesenangan. Orang berumah tangga karena motivasi seksual, bukan cinta. Manusia itu sebenarnya binatang yang pandai berdusta tentang cinta. Banyak orang cerai karena tidak harmonis disebabkan kegagalan seks. Kalaupun rumah tangga awet, itu karena ada uang. Toh akhirnya pasangan yang tidak terpuaskan secara seksual akan berselingkuh dengan orang lain. Itu artinya seks dan uang lebih masuk akal daripada cinta.

“Ah, jangan terlalu berlebihan membenci cinta. Sudah dikatakan tadi bahwa cinta itu baik, yang tidak baik adalah perilaku manusia. Cinta itu indah, bijaksana, bersih…yang kotor adalah manusia. Cinta tidak pernah punya potensi merusak. Bukankah segala hal akan membahayakan jika berada pada tangan manusia yang tak baik. Itu sebabnya tadi ada istilah cinta kulit luar. Kamu tahu kan maksudku? Cinta kulit luar ibarat pisau yang disalahgunakan. Hakikat cinta itu baik. Ia lahir untuk kebaikan. Tapi jika disalahgunakan, ia akan kehilangan makna. Bukankah sendok dan garpu diciptakan untuk makan, kenapa harus dipakai untuk membunuh? Sebenarnya tak ada orang yang menderita karena cinta jika orang mau memahami dan mengerjakannya dengan baik. Banyak orang punya harta dan kedudukan, tapi ia menderita. Begitupun harta dan kedudukan akan disalahgunakan jika tak disertai cinta. Kita bukan hewan. Kita adalah manusia yang punya cinta. Itulah yang dapat membedakan kita berbeda dengan hewan. Soal rumah tangga, tujuannya bukan seks, tapi harmonisasi. Jika tujuannya seks, tak usah menikah. Bekal rumah tangga adalah cinta. Jika tak ada cinta, seks sekalipun tak akan indah.”

“Menurutku cinta itu tak ada…”

“Menurutku ia ada…”

“Bagaimana menurutmu?”

“Hm…”

“Jangan percaya cinta…”

“Percayalah cinta…”

“Bagaimana?”

“Hm…”

“Cinta adalah candu yang merusak…”

“Cinta bukan candu yang merusak…”

“Jika cinta itu baik, ia hanya sebatas cerita bohong yang dapat menghibur dan menyenangkan, tetapi pembodohan, tak baik bagi perkembangan mental anak-anak, juga orang dewasa…”

“Cinta itu pelajaran. Cinta adalah hikmah, adalah kebenaran. Mencintai orang lain adalah pelajaran berharga. Mencintai hidup adalah pelajaran terpenting. Kita akan hidup lebih baik…”

Malam kian larut. Percakapan terus berlanjut. Tak ada debat kusir. Tak ada pertengkaran. Tak ada teriakan. Tak ada ungkapan-ungkapan emosional. Tak ada egois dan keras kepala. Tak ada sikap-sikap yang merasa paling benar. Begitu sunyi. Malam ini sunyi…

Begitulah, setiap malam, saya terbelah menjadi tiga. Percakapan kami selalu menyenangkan, tetapi berharga. Pesan moral yang selalu saya dapat adalah: belajarlah berdialog dengan diri sendiri, sebelum berdialog dengan orang lain…

Lha, lantas apakah cinta itu ada atau hanya kebohongan?

01:55 Minggu, 29 Juni 2008

7 Komentar »

  1. hebat sekali dialognya yah?…aku yakin anda bisa ngarang tulisan apa aja. Mang…aku ajarin ya ilmunya

    Komentar oleh ngadimin — 28 Maret 2010 @ 12:33 pm |Balas

  2. cinta bisa saja ada, bagi yang mempercayainya. walau tidak berupa wujud, tapi bisa dirasakan di hati
    tapi terlalu sering mengonsumsi cinta, terutama cinta keburukan, maka menghasilkan kebohongan

    Komentar oleh fikamar — 15 April 2010 @ 7:27 am |Balas

  3. yup setuju.. terkadang cinta diungkapkan atas nama cinta dan keimanan yang sebenarnya adalah nafsu keindahan duniawi saja…

    cintaaaa…hanyalah kebohongan semata..

    Komentar oleh cinta — 23 Agustus 2010 @ 3:35 am |Balas

  4. aku tidak punya banyak cinta,ups salah maksud aku tidak punya banyak kata yg bisa diungkapkan,cinta akan berwujud seperti apa yg dipikirkan. Lain ladang lain belalang,lain lubuk lain ikannya.cinta bahannya sama,karena dia diciptakan hanya satu pabrik dan original,dan sampai saat ini tidak ada yg bisa memalsukannya,tp klo pengen tau bahan2 serta prosesnya sering2 aja jalan sama dalangnya.

    Komentar oleh lsmkiber — 6 Januari 2011 @ 7:55 pm |Balas

  5. Perasaan cinta adalah perangkat lunak, dan hati adalah perangkat keras.

    Akal sebagai software, dan otak sebagai hardware.

    Baik atau buruk, manfaat atau mudhorat.
    Ditentukan oleh ‘kita’ sebagai user dari hardaware dan software tsb.

    Demikianlah.. :)

    Komentar oleh r4k4 — 16 Maret 2011 @ 7:13 am |Balas

  6. Paradoks adalah Hal Wajib bagi para pemikir, Ilmu tanpa Paradoks Bagaikan Kekasih yang tak berperasaan,,,jadi Cinta pun demikian, selalu ada yang memuja dan menentangnya, namun keindahan cinta terletak pada “PARADOKSNYA” cinta..

    Salam Kenal Kang

    Komentar oleh Rusman Nuryaman — 27 Oktober 2011 @ 12:37 pm |Balas

  7. cintailah cinta

    Komentar oleh wisanggeni — 22 April 2013 @ 4:40 am |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: