mifka weblog

2 September 2008

Awas Kalimat Rancu!

Filed under: Ω Soal Bahasa — by Badru Tamam Mifka @ 5:36 pm
Tags: , ,

Kawan saya menulis opini berjudul:
DEMONSTRASI MAHASISWA DAN SBY-JK
“Anu Pak, ini tulisan tentang demonstrasi mahasiswa dan kontroversi kebijakan SBY-JK…” ucap kawan saya pelan. Tapi Kata dosen, ini judul yang rancu. Jadi yang berdemonstrasi itu mahasiswa dan SBY-JK? Lalu siapa yang jadi objek demonstrasi jika SBY-JK ikut demonstrasi?

Dulu, ketika saya semester 2, saya juga pernah menulis opini meledak-ledak untuk tugas kuliah berjudul:
BANJIR: ANTARA DOSA MANUSIA DAN TUHAN
Di opini itu saya ingin menulis soal bencana akibat tangan-tangan manusia, dan perintah Tuhan sebagai pencipta bumi untuk menjaga harmonisasi dengan alam. Beberapa hari kemudian, seorang dosen bertanya pada saya.
“Apa kamu menganggap Tuhan punya dosa pada bencana banjir yang disebabkan sampah?”
“Tidak.” jawab saya.
“Tapi kenapa judul opini kamu begini?”
Saya tak habis pikir, apa yang salah dengan judul ini. Ternyata eh ternyata, urutan kalimat yang jadi pasal. Kalau urutan Tuhan dalam judul di atas ditempatkan di akhir kalimat, berarti Tuhan juga punya dosa pada bencana banjir karena sampah rokok dan bekas pembalut wanita. Sekarang ubah: BANJIR: ANTARA TUHAN DAN DOSA MANUSIA. Sekarang jelas ada dua objek, yaitu Tuhan dan dosa manusia. Maknanya juga jadi lain bukan? Benarkah?
Judul memang sudah benar, tapi tugas opini saya tetap ditolak. Katanya judulnya terlalu meledak-ledak, bombastis, tapi isinya menyedihkan…. Hiks!

3 Komentar »

  1. Saya rasa keberatan sang dosen memang bisa diterima. Dengan judul seperti yang ditulis secara bahasa memang SBY-JK ikut berdemonstasi bersama mahasiswa. Tapi, soal istilah rancu? Benarkah ini kalimat rancu? Apa sih arti kata rancu?

    Kenapa tidak dinyatakan saja ini judul yang salah?

    Komentar oleh Yusnirsyah Sirin — 5 September 2008 @ 2:37 pm |Balas

  2. heheheh bahaya juga sy kalau sampai bikin salah presepsi :)

    Komentar oleh uwiuw — 6 Oktober 2008 @ 10:49 am |Balas

  3. Saya senang membaca tulisan Anda yang menggelitik. Sekarang tidak banyak yang peduli terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bahasa nasional kita.Orang lebih sibuk mengurusi politik dan UUD, maksudnya yang terkait ekonomi yang “ujung-ujungnya duit”.

    Komentar oleh anton sriyono — 10 Februari 2010 @ 12:18 am |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: