You are currently browsing the monthly archive for Februari 2009.

Aku datang padamu, naik bis kota . Sepanjang jalan, dari kaca jendela bis, aku melihat langit menyimpan rahasia. Rinduku berdesakan dengan suara kondektur, nyanyian penyanyi jalanan, derit roda bis… Ah, cuaca masih tak terbaca, cinta bersembunyi dalam purba bahasa.Tak ada lagi sisa parfum murahan, hilang terhapus angin, demikian dingin. Betapa ingin kau duduk di sampingku, melewati perjalanan ini dengan sebungkus humor yang rakus, dan menabung kenangan di saku-saku baju dan celah tatapan. Tapi biarlah, barangkali kamu sudah memiliki perjalanan yang tak sesederhana ini. Sepanjang jalan ini, dalam bis, dari jendelanya, aku seperti menatap bayangan wajahmu demikian lengkap.Tunggulah, di tempat yang sama, meski satu jam bersama…

Bagaimana mungkin aku bisa mengurai dan memilah cinta jika masih gemetar samar diantara harapan dan kenyataan yang tak berkesudahan? Bagaimana mungkin aku bisa membuang cinta ini sekehendak hati jika ia hadir dalam diriku bukan sebagai pakaian yang bisa dengan mudah aku lepas? Bagaimana mungkin aku bisa pergi dan mulai membencimu jika aku tahu bahwa ketika kita mencintai seseorang, disaat yang sama kita tak akan bisa membencinya? Bagaimana mungkin aku bisa memecah persoalan cinta dengan sepenuh kerja pikiranku jika ternyata ia bersembunyi sunyi dalam perasaanku? Bagaimana mungkin aku penjara cinta dalam diam jika ia adalah sesuatu yang mesti disampaikan? Bagaimana mungkin aku membunuh sesuatu yang terasa sudah bercampur dengan arus darahku sendiri?