mifka weblog

16 April 2009

15 April: Langit-Mu Terlihat Basah, Tuhan

Filed under: Ω Kisah Nyata — by Badru Tamam Mifka @ 8:42 pm
Tags: , , , , , ,

6a00d8341bf6f553ef00e54f5024ef8834-640wi1


Sebuah Kisah Kecil di Ebah

Hampir  saja saya lupa jika tanggal 15 April adalah hari kelahiran saya. Jika saja seorang teman yang jauh di sana tidak memberitahu saya tiga hari sebelumnya, saya bisa benar-benar lupa melewati tanggal istimewa itu. Saya bilang istimewa karena sepanjang hidup saya tanggal dan bulan tersebut demikian mengatur dan berkuasa atas usia saya. Saya tahu, setiap tanggal 15 April, saya mesti sadar bahwa usia selalu terus berjalan dan saya harus menghitungnya sebagai bentuk lain dari sebuah pertanyaan soal apa yang selama ini telah saya perbuat untuk hidup saya, dan untuk apa yang berada di luar diri saya. Sebab ternyata usia bukan sekedar hitungan angka-angka, tapi juga semacam ukuran untuk menilai sejauhmana perubahan kualitas hidup saya.

Menjelang tanggal 15 April tahun ini, saya melewatinya dengan duduk sendirian berlama-lama di sebuah tempat sunyi yang jauh dengan teman-teman dan keluarga saya. Seperti hari-hari sebelumnya, tanggal 15 April ini, saya menikmati senja yang turun, warna daun hijau, nyanyian burung-burung kecil, dan kerlip bintang di malam hari. Saya berjalan di melewati luas pesawahan, merasakan tiupan angin yang sejuk dan menikmati lampu-lampu berbaris di kaki-kaki gunung. Ketika malam semakin larut, saya pulang dan kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan di depan komputer. Ah, semua laporan kegiatan harus selesai dan dikirim besok; padahal saya ingin menulis beberapa puisi dan cerita pendek.

Terkadang saya ingin melewati hari ulang tahun saya bersama orang-orang yang saya kenal baik, tapi barangkali sudah bukan saatnya lagi, tak perlu lagi. Barangkali mengingatnya saja sudah cukup; barangkali saya akan melewati malam itu seperti juga malam-malam yang lainnya, konsentrasi di depan komputer sampai menjelang shubuh, dan di separuh siang harinya melakukan hal yang sama. Tepat jam 12 malam, tanggal 15 April, saya memang menerima SMS dan telepon ucapan selamat ulang tahun. Mereka dua orang teman perempuan yang masih mengingat tanggal kelahiran saya. Mereka kirim saya doa. Setelah itu hening, seperti sejenak berjumpa dan saling menyapa dengan seseorang di sebuah tikungan jalan di malam hari, dan akhirnya berpisah. Sepi kembali.

Barangkali hidup juga seperti itu, adakalanya kita menikmati sesuatu yang ramai, riuh penuh perbincangan, saling merapat dan berdesakan, tapi kelak sendiri dan sepi. Saya mesti siap dengan hal itu. Saya tak perlu kecewa. Saya memang bisa tak punya masalah yang serius dengan kesendirian. Saya bisa belajar dan memahaminya sebagai semacam keindahan menikmati hidup dan keseharian. Tak ada janji pertemuan, tak ada jadwal yang padat di luar rumah; saya hanya terbangun dari tidur tanpa kata-kata, mandi, menyiapkan air putih, membuka buku dalam beberapa menit, dan menerima telepon dalam suasana ruangan yang saya sukai. Hal itu sudah cukup bagi saya. Tapi di hari yang bagi saya sangat istimewa kali ini, ternyata tiba-tiba saya membutuhkan sesuatu yang lebih, barangkali tak hanya sekedar kata.

Tanggal 15 April, saya bangun pagi lebih awal karena beberapa SMS membangunkan saya. Ucapan selamat ulang tahun dari beberapa teman, dan saya kirim mereka ucapan terima kasih, tentu saja, dengan bahasa yang berbeda. Saya ingat, sampai hari menjelang siang, beberapa teman yang saya kenal dekat belum mendoakan saya di hari ulang tahun kali ini, juga keluarga saya. Ah, mungkin mereka lupa. Tak perlu lah saya beritahu mereka, mungkin tak penting. Bahkan orang-orang di kantor Sapa pun tak mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Tak apalah. Mereka lupa dan saya tahu mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lalu saya iseng buka Facebook yang sudah lama tak saya tengok, Wah rupanya banyak ucapan selamat ulang tahun dari beberapa teman online, tak ketinggalan ucapan singkat si Kakak yang belakangan ini sempat lelah menyuruh saya membereskan kuliah. Ya, kuliah. Tak heran jika dari sekian banyak SMS ucapan ulang tahun, mereka hampir semua mendoakan saya agar cepat lulus kuliah. Ada apa dengan kuliah saya? :( Hm, saya sih berharap di hari ulang tahun ini, mereka tak perlu terlalu detil bicara soal isu mengerikan seperti itu. Tak enak di dengar. Hiks.

Ah, mendadak saya kangen rumah. Sudah lama tak pulang. Saya rindu orang tua saya. Ingatkah mereka bahwa hari ini adalah hari ulang tahun saya, adalah tanggal ketika mereka melahirkan saya? Sedang apa mereka sekarang? Ingatkah mereka pada saya? Ataukah mereka sudah sangat kecewa pada saya? Kenapa sampai saat ini…ah, sudahlah. Saya mendoakan mereka baik-baik saja, sehat. Hm, saya sempat berpikir, ternyata hari-hari penting milik kita juga bisa menjelaskan sejauhmana hubungan kita dengan orang lain. Banyakkah orang lain yang mengingat hari-hari penting kita? Seperti juga ingatkah sang suami atau istri pada hari pernikahan mereka atau ulang tahun pasangan mereka? Saya pikir, jika semua itu berjalan seperti apa yang kita harapkan, kita bisa memiliki perasaan-perasaan sangat baik dan penting.

Seharusnya di tanggal 15 April ini saya mesti gembira. Tapi menjelang sore ada kejadian yang mengejutkan saya, sangat menyedihkan saya. Ketika itu saya sedang berusaha meng-convert beberapa video kegiatan untuk disertakan dalam laporan, tapi ternyata tak memungkinkan untuk dikirim hari itu karena belum kelar. Akhirnya saya dan Neng Siti memutuskan untuk keluar mengirim laporan kegiatan via TIKI, dan meninggalkan kantor Sapa dalam keadaan kosong. Saya keluar lewat pintu belakang dan lupa mengunci pintu depan. Hampir tiga jam kami berdua di luar. Akhirnya saya antar Neng Siti pulang, ke terminal menuju rumahnya, setelah itu saya buru-buru balik sendiri ke kantor Sapa karena mesti membereskan editing video. Betapa terkejut saya ketika melihat pintu depan agak terbuka. Setelah parkir motor, saya buru-buru menerobos ke dalam… Ya Tuhan, laptop dan kamera sudah tak ada di tempatnya lagi! Saya langsung curiga ada pencuri masuk dan mencuri barang-barang berharga di dalam kantor. Saya terkulai lemas. Ya Tuhan, cobaan apa ini…

Saya langsung datang ke rumah Sri dan menanyakan keberadaan laptop, barangkali dia ke kantor dan menyimpan laptop dan kamera di tempat yang aman. Tapi Sri bilang tak tahu. Saya mulai bingung. Lalu saya coba telpon Budi barangkali dia sempat datang, masuk kantor lalu pinjam laptop dan kamera. Tapi nomornya tak aktif. Di kantor saya bingung sendirian. Telepon kantor berbunyi, mengejutkan saya. Neng Siti menelepon dan menanyakan apa saya sudah sampai ke kantor. Saya bilang padanya pintu depan terbuka, laptop-kamera hilang. Neng Siti ikut bingung dan dia balik lagi ke kantor, padahal di luar sudah mulai hujan.

Setelah Neng Siti sampai di kantor, kami berusaha mencari keberadaan laptop dan kamera. Tapi tetap tak ada. Kemudian Neng Siti menemui Sri dan meninggalkan saya sendirian di kantor. Saya bingung. Stress. Siapa yang berani-beraninya masuk kantor, mencuri laptop dan kamera? Saya bingung karena di laptop kantor itu penuh data dan dokumen penting Sapa, jika hilang, bisa gawat. Saya merasakan kepala saya saat itu seperti dihimpit dua benda yang sangat berat. Sakit. Stress. Lalu saya menyusul Neng Siti ke rumah Sri, keduanya tampak mengobrol serius ketika saya datang. Saya tanya kembali tentang laptop, Sri bilang tidak tahu dan dia malah bicara soal data-data penting yang ikut hilang di laptop. Saya semakin tegang. Pusing bukan kepalang.

Saya gelisah. Saya coba kembali kontak Budi, siapa tahu dia pinjam laptop dan kamera, atau menyimpannya di suatu tempat. Tapi hp nya masih saja tak aktif. Saya SMS, pending. Jam 9 malam, pesan saya terkirim. Tapi Budi bilang tak tahu. Makin kaget lah saya. Bingung. Saya orang yang paling bertanggung jawab dalam kejadian ini, karena  beberapa hari terakhir ini saya tinggal di kantor sendirian dan terakhir meninggalkan kantor sebelum kehilangan itu. Duh, bagaimana saya harus menjelaskan semua ini pada Sri dan Ciwong, juga pada yang lainnya? Saya harus ngomong apa jika mereka nanti berkumpul lagi? Data-data itu, video-video buat laporan… Akh! Saya bingung. Takut. Sangat bersalah. Wajah Neng Siti tampak muram, dia pulang sendiri ke rumahnya. Menjelang malam, saya SMS lagi Sri soal kehilangan ini. Dia tak membalas SMS saya. Benarkah dia marah? Di kantor, saya sendirian, tak bisa memejamkan mata. Saya sangat terpukul oleh kejadian ini. Saya tak bisa tidur. Pikiran saya kacau. Saya merasa sepi dan nyeri, sepanjang malam…

Keesokan harinya, saya akhirnya tahu, ternyata semua kejadian mengagetkan, menyedihkan dan membingungkan di tanggal 15 April sudah direncanakan oleh teman-teman di Sapa Institut. Laptop dan kamera sengaja disembunyikan oleh Budi di rumah Sri. Mereka sengaja melakukan semua itu di hari ulang tahun saya. Saya kesal bukan main sudah dikerjain segila itu, membuat saya stress semalaman. Beberapa menit lamanya saya menumpahkan kekesalan saya di hadapan mereka, sampai akhirnya Sri menyuruh kami untuk datang ke rumahnya karena ada rapat mendadak. Di tengah jalan, tiba-tiba Budi mendorong saya, dan saya jatuh ke sawah berlumpur. Basahlah, kotolah baju dan celana saya. Belum juga sempat bangkit, tiba-tiba seember air menyiram wajah saya. Entah air apa. Tampak si Jahanam Budi sang Eksekutor tiba-tiba menyiram saya dengan seember air comberan. Bau sekali. Lihatlah, mereka cekikikan melihat saya dalam keadaan kotor dan tak berdaya di kubangan lumpur sawah.

Dengan susah payah saya keluar dari lumpur dan merangkak naik. Tiba-tiba, dari rumah Sri keluar teman-teman Sapa membawa kue bolu cokelat yang indah. Di atasnya ada lilin sepasang angka umur saya, menyala indah. Tuhan, disaat saya sangat merasa sendirian akhir-akhir ini, sangat merasa sepi, ternyata masih ada orang-orang yang membuat kejutan mengharukan seperti ini, justru ketika mereka dalam keadaan sibuk sekalipun. Terima kasih semuanya. Terima kasih, Tuhan. Saya sangat bahagia. Saya terharu. Sesuatu menggenang di kedua mata saya. Langit tiba-tiba jadi terlihat basah…

Majalaya, 15-16 April 2009

5 Komentar »

  1. So painful Badru……hope my unspoken prayers were answered..
    You, among all men, are most richly blessed!

    Komentar oleh Maya Ard — 19 April 2009 @ 3:46 pm |Balas

  2. waduh……rame eung..ulang tahuna…..isukan urang ka sapa….traktir nya….kabayang ente gorengna keur stres…keur cageur wae ge.. genek…he..he….met ultah aja…salam manis…

    Komentar oleh faridz — 27 April 2009 @ 12:37 pm |Balas

  3. Hai Mifka, meski telat saya mau uacapakan “Happy Birthday to you” Semoga senantiasa berbahagia, selalu sehat & sukses yach. Amien.

    Ma’af agak jarang singgah disini karena sibuk :) :) :)

    See you :)
    Best regard,
    Bintang

    Komentar oleh elindasari — 14 Mei 2009 @ 7:20 am |Balas

  4. 110610, YS

    Komentar oleh YAYAT S JAYASANTIKA — 11 Juni 2010 @ 8:08 am |Balas

  5. mutiara muda….sukses y !

    Komentar oleh rakiman galih — 25 Desember 2011 @ 12:41 pm |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: