mifka weblog

16 Agustus 2009

Teror dan Rasa Takut: Surat buat Sukron Abdilah

Filed under: Ω Surat-surat — by Badru Tamam Mifka @ 7:17 pm

teror dan rasa takutMembaca tulisanmu: “Amankah Indonesia dari Teror?” membuat saya berpikir tentang rasa takut yang berkembang biak dan hadir begitu dekat dengan keseharian kita. Ya, barangkali kata yang banyak disebut masyarakat hari ini selain kata “uang” adalah: “teroris”. Mereka, teroris, akan dengan tiba-tiba menjalankan aksi teror kapan saja, mempertebal rasa takut kita. Ketika masyarakat bicara teroris hari ini, mereka pasti akan bicara tentang ledakan gedung dan suara bom. Tapi ternyata teror tak hanya tumbuh buas lewat bom, ia bisa terjadi di manapun, dalam bentuk apapun.

Teror bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh jejaring sistem dalam urat nadi pemerintah. Memang benar, ungkapan “Indonesia adalah negara tidak aman bagi rakyatnya” bukan hanya menggambarkan rasa takut pada ledakan bom saja, tetapi juga bisa menggambarkan rasa takut yang terjadi dalam dunia pendidikan kita, politik, ekonomi, bahasa, atau pada pincangnya hukum yang ternyata bisa dikendalikan oleh orang-orang yang punya duit saja, yang kuat, yang punya kekuasaan—di luar itu adalah si lemah, yang takut di hadapan hukum yang harusnya membelanya, yang takut pada pemerintah yang mestinya melindunginya.

Bicara soal teror, saya pernah berbincang dengan seseorang yang takut sekolah dan seseorang yang takut mendengarkan dakwah. Orang yang pertama adalah seorang anak yang (sebenarnya) terobsesi ingin sekolah, tapi ia takut pada sang ayah yang miskin, dan sang ayah takut dengan biaya pendidikan yang baginya terasa mencekik. Orang kedua adalah seorang pemuda yang belakangan punya niat baik ingin jadi orang baik-baik; ia meninggalkan kebiasaan mabuk, berjudi dan bermain perempuan. Ia kini jadi mau ke mesjid, belajar baca Qur’an dan sholat jumat. Tapi setelah mendengar khatib bicara soal balasan neraka yang menyala-nyala dalam khutbahnya; ia jadi sangat takut, ragu dan bingung.

Ternyata, tak hanya aksi Noordin M. Top cs yang bisa menjadi teror bagi masyarakat dengan bomnya, teror juga bisa berupa instansi, atau lainnya. Saya jadi mulai berpikir bahwa teror dan rasa takut telah membangun rumah dalam pikiran dan keseharian orang-orang yang lemah, baik lemah secara struktural ataupun mental. Bangsa ini akan menjadi wilayah yang penuh rasa takut jika tak memiliki sistem keamanan yang kuat untuk mencegah terorisme. Kita takut dan tak bisa melakukan apa-apa di hadapan sistem kekuasaan yang korup. Atau, bentuk rasa takut yang mulai abstrak: kita takut pada masa depan dan cita-cita; kita takut pada bayangan kita sendiri—kita membuat teror bagi diri kita sendiri! Ah, hidup kita, bangsa ini, dunia ini, dipenuhi “teroris”!

Teror dan rasa takut adalah “iblis” yang harus kita lawan: iblis dalam diri kita, maupun iblis yang bekerja dalam jiwa orang-orang yang berbuat kerusakan, zalim dan berbuat tak adil. Bicara soal iblis, saya jadi ingat pada iblis (yang saya anggap sebagai) pelopor teror yang diceritakan dalam Quran. Iblis masuk dalam daftar ancaman sejarah (iman) manusia karena terornya: “…tangguhkan aku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya.”, kalau tak salah ini tertulis dalam surat Al Israa’ ayat 62. Wah, iblis meneror manusia setiap detik, sampai hari kiamat! Ia hadir dalam bisikan, menjelma hawa nafsu, pesimisme, dan jadi musuh nyata di samping orang-orang zalim.

Diri yang Merapat dalam Barisan

Pepatah bijak bilang: keberanian itu bukannya tak punya rasa takut tetapi mengalahkan rasa takut. Rasa takut adalah hal yang wajar, hanya saja kita mesti punya sikap untuk segera mengalahkannya. Salah satu cara yang bagi saya sangat menarik untuk melawan rasa takut adalah: merapat dalam barisan, berjamaah. Rasa takut biasanya muncul ketika seseorang dalam keadaan sendirian. Rasa takut akan mudah berkembang biak dalam barisan yang terpecah-pecah.

Maksud saya, seseorang tak bisa sendirian menangkap jaringan teroris di negeri ini. Seseorang tak bisa sendirian meluruskan hukum. Seseorang tak bisa sendirian merubah kebijakan pemerintah yang tak adil. Seseorang perlu banyak orang untuk saling kritik dan saling mengingatkan. Ia perlu banyak orang, strategi dan ragam media untuk menggerakkan gagasan, protes dan aspirasi. Seperti juga halnya saya perlu banyak orang untuk merangsang saya mewujudkan cita-cita dan menumbuhkan rasa percaya diri saya menghadapi masa depan dan pelbagai persoalan. Saya perlu banyak orang untuk saling berbagi pengalaman, berdiskusi dan mengembangkan kreativitas. Saya perlu banyak orang untuk melawan teror, dalam bentuk apapun.

Hal yang sama sangat diperlukan dalam bermasyarakat dan beragama. Masyarakat dan umat Islam harus berjamaah untuk menghadapi persoalannya. Tentu saja, merapat dalam barisan bukan berarti memperlemah diri dengan memperbesar ketergantungan pada banyak orang, tetapi setiap diri dalam barisan bersungguh-sungguh bekerja keras mengerahkan potensi diri, kreatif, dan lebih inovatif—semakin kuat seseorang dalam barisan, maka semakin kokoh barisannya.

Akhirul kalam, saya cukupkan saja surat tentang “Teror dan Rasa Takut” ini, sekedar (ingin) ikut meriuhkan tulisan-tulisan “ayat-ayat anti-teror” yang sudah saya baca. Mudah-mudahan ini menjadi awal diskusi dan pemicu inspirasi dalam tulisan-tulisan selanjutnya. Terima kasih, kawan.

Wassalam.

Badru Tamam Mifka

1 Komentar »

  1. terima kasih artikel anda sangat bermanfaat bagi saya dan keluarga comment 379

    Komentar oleh motivasi259.blogspot.com — 28 Agustus 2009 @ 3:12 pm |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: