mifka weblog

25 Agustus 2009

Catatan Ramadhan (2): Nasehat dari Sebuah Desa

Filed under: Ω Catatan Harian — by Badru Tamam Mifka @ 6:13 am
Tags: , ,

Ramadhan kali ini memberiku hadiah yang sangat cantik: sebuah perasaan yang hening dan bening, sebening mata air yang aku temukan sepanjang jalan di sebuah desa yang tenang di kaki gunung ini. Setidaknya hal itu terasa setelah persinggahanku menikmati senja Ramadhan di sebuah desa yang telah menumbuhkan ketenangan bathin dan keindahan iman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Desa dengan suasana yang cerah dan ramah, dan malam yang melukis cahaya bulan pada daun-daun, jauh dari kebisingan dan kegerahan kota yang penuh benci, dengki, fitnah dan amarah. Inilah desa, tempat yang bagiku bersahabat bagi bahasa rasa, memberi tempat sandaran yang baik bagi pikiran yang lelah, memberi cermin lewat telaganya tentang keseluruhan diri kita, hingga kita rasakan airnya yang sejuk membersihkan diri kita dari seribu debu dan daki yang ditanamkan gemuruh kota. Ya, seperti juga halnya Ramadhan, adalah sebuah “desa kecil” yang sejuk di tengah gerahnya tahun, yang memberi kita waktu yang istimewa untuk belajar membersihkan diri, memberi kita waktu yang istimewa untuk belajar menikmati dan memaknai hari-hari, serta keikhlasan mensyukuri hidup; dan ia juga memberi kita waktu yang paling istimewa untuk belajar mencintai sesama dan menumbuhkan persahabatan yang lebih dekat dengan Tuhan.

Ya Rabb, inikah wajah alam-Mu yang sebenarnya? Daun yang hijau di sepanjang jalan, pohon-pohon yang tinggi dan tegap seperti barisan malaikat yang takzim pada tubuh gunung yang tertanam di bumi, dengan puncak yang terlihat seperti menyentuh langit biru. Inikah suara angin-Mu yang sebenarnya? Desir yang menyisir reranting dan memainkan musik alam yang lembut pada dedaun sepanjang malam, menggetarkan permukaan air dan meniupkan aroma tanah yang subur. Ya Rabb, inikah wajah manusia yang sebenarnya? Raut yang jauh dari rasa takut, mata yang bersih bak mencerminkan kejernihan hati, kata-kata yang penuh cinta, rekah senyum nan ranum, selalu ramah menyapa pengunjung yang datang. Ya Rabb, inikah suara adzan, dzikir dan lantunan al-Qur’an yang sebenarnya? Melahirkan bunyi yang merentang di tepian sunyi, sungguh menggetarkan hati, menyelinap jendela jiwa, merubuhkan rasa sombong, mengubur kedengkian, membunuh kata-kata kotor, dan membimbing hati bermuara pada niat dan laku yang terbaik. Ah, aku merasa harus membenamkan diri lebih lama dalam suasana seperti ini. Kegelisahan yang hadir pun, bukan lagi kegelisahan tentang rasa kekurangan dan keresahan yang hampa akan harta, bukan lagi kegelisahan air mata karena derita, tetapi yang mampir adalah kegelisahan tentang iman yang masih gugup di hadapan keagungan Tuhan, iman yang selama ini masih belum serius, iman yang selama ini sekedar keyakinan yang verbalistik, iman yang selama ini dipaksa tumbuh karena perintah manusia.

Kerlip lampu bergoyang sepanjang jalan menuju mesjid. Dari kejauhan, terlihat orang-orang berwudu dan berdoa. Mereka memasuki mesjid dengan langkah dan wajah yang tenang. Wajah mereka yang segar seusai ifthar. Air yang sejuk membasuh wajahku, menggetarkan pori-pori di sekujur tubuhku, terasa teduh seperti beribu doa menyentuh jiwa. Aku seperti melihat rindu yang menggebu dalam setiap ruku. Aku seperti merasakan wujud yang sunyi setiapkali bersujud. Aku mendengar seribu bunyi nan merdu dari bibir orang-orang yang tadarus menggumamkan ayat-ayat al-Qur’an: syahru ramadhoona alladzi unzila fiihil Qur’an hudan linnâs a bayyinâtin minal hudâ wal furqân…. Tercium harum rakaat tarawih di permukaan sajadah yang masih menyimpan aroma jejak itikaf selama bertahun-tahun yang lalu. Desah tilawah Quran bergetar di kaki mimbar. Teranglah ruang hati dari gelap khilaf.

Malam bertambah sunyi, seperti sudah menjadi kebiasaan, orang-orang mulai duduk melingkar. Seseorang yang berwajah teduh, berkaca mata penuh wibawa kemudian mulai menceritakan sebuah kisah: “Ada seseorang yang bertanya pada Nabi tentang perbuatan apa yang paling baik. Nabi berkata bahwa tidak ada yang lebih bagus selain mempunyai sifat yang baik. Sampai tiga kali si penanya bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan Nabi menjawabnya dengan jawaban yang sama. Ketika si penanya masih bertanya lagi, Nabi menjawab: bagaimana mungkin kau tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sifat baik. Selama engkau mampu, janganlah marah. Itulah yang dimaksud dengan mempunyai sifat yang baik.” Aku jadi ingat nasehat Imam Ja’far Ash-Shadiq as bahwa amarah dapat membinasakan hati dan kebijaksanaan, barangsiapa yang tidak dapat menguasainya, maka ia tidak akan dapat mengendalikan pikirannya. Marah itu tidak lain merupakan salah satu penyakit hati yang kalau dibiarkan akan dapat merusak diri secara keseluruhan.

Tak lama kemudian, seseorang yang duduk bersila di hadapanku mulai berkata lagi, “Ya, pada saat marah menguasai seseorang, maka akan terjadi ketidakseimbangan pikiran manusia berupa hilangnya kemampuan untuk berpikir sehat. Apabila salah seorang di antara kalian marah maka ta’awudz, lalu diamlah, atau berwudulah, dan bersabarlah. Ya, sabar. Adakah yang lebih utama daripada sabar, sebagian ulama mengatakan bahwa Allah telah menyebutkan sabar di dalam kitab-Nya lebih dari 90 tempat. Mereka bilang bahwa mereka tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah sebanyak ini kecuali sabar. Seperti dalam surat al-Baqarah: Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Atau, “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”

Tanpa diminta, mendengar nasehat agung itu, redamlah sisa-sisa marah dan rasa sakit hatiku yang kutabung dan kubawa-bawa selama ini. Benar orang bijak bilang, setiap menit kita marah, kita kehilangan 60 detik kebahagiaan. Hidup ternyata butuh disentuh dengan nasehat dan kisah-kisah teladan seperti itu, seperti halnya orang bisa bersifat jadi lebih baik ketika memaknai ayat-ayat al-Qur’an dan belajar pada pengalaman-pengalaman orang lain yang penuh kebaikan. Ya, nasehat bulan ramadhan di hari aku berpuasa yang kedua ini adalah: jangan biarkan kita kalah oleh rasa marah; dan aku mesti belajar bersabar, sebab aku percaya, dalam cahaya kesabaran ada nikmat kesadaran, kebijaksanaan, hati yang halus, pikiran yang sehat, jiwa yang tenang, dan rasa kemanusiaan yang lebih baik. Wallahu ‘alam.

Bandung, 2009

[Badru Tamam Mifka]

Catatan di Facebook

1 Komentar »

  1. 040610, YS M DIN WAWAN

    Komentar oleh YAYAT S JAYASANTIKA — 4 Juni 2010 @ 7:08 am |Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Kirim komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: