Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 14 Desember 2009
Cecep Syamsul Hari was born in Bandung, West Java, Indonesia in 1967. As a poet writing in Indonesian, he first came to national prominence with his 1996 collection Kenang-kenangan (Remembrance), followed in 2002 with Efrosina (Euphrosyne), reprinted in 2005. Translations of his poetry into English by Australian literary translator Professor Harry Aveling have appeared in Heat (1999), with inclusion of further translations of Cecep’s poems in Aveling’s pioneering 2001 Indonesian poetry anthology, Secrets Need Words, published by Ohio University Press. In 2006 a bilingual edition of twenty one poems by Cecep, translated by Aveling and Candraningrum, appeared in Indonesia, providing further access for English language readers to the work of this highly imaginative Indonesian poet. He is one of only six Indonesian poets whose poems have been included in recent (2008) Norton poetry anthology, Language for a New Century: Contemporary Poetry from the Middle East, Asia and Beyond.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Zero | 1 Komentar »
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 12 Desember 2009
Humor Sunda CANGEHGAR pendek-pendek, tapi padat dan pikasebeleun. Humor yang unik, sebuah upaya bobodoran yang kreatif di Radio Rama FM Bandung yang banyak digemari para pendengar setianya. Humor-humornya segar seperti durasi iklan yang sangat menghibur. Di zaman rieut begini, Akang-Teteh, humor-humor seperti CANGEHGAR memang sangat diperlukan, setidaknya agar bisa mencairkan bekunya rutinitas keseharian kita yang barangkali bisa bikin stress berkepanjangan. Nah, bagi yang belum punya koleksi bodor CANGEHGAR MP3, silakan download. Warnai hidup kita dengan tertawa, salah satunya dengan humor-humor CANGEHGAR yang kreatif dan patut diacungi jempol. Cag ah, bodor urang Sunda never die lah!
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Zero | Bertanda: bodor, Cangehgar, download, Humor Sunda, mp3 | 4 Komentar »
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 12 Desember 2009
Dahulu, tahun 80-an, ada sandiwara radio yang sangat populer di Indonesia, yaitu Saur Sepuh. Serial ini mampu menghipnotis jutaan pendengarnya di seluruh pelosok nusantara. Ceritanya berkisah pada masa jaman Kerajaan Pajajaran. Tokoh-tokoh dalam cerita ini antara lain, Brama Kumbara, sang Raja Madangkara yang bijaksana, tampan rupawan serta sakti mandraguna, sang pewaris tahta kerajaan Madangkara yang pada awal kisah diceritakan tengah dijajah oleh kerajaan Kuntala. Ada juga adik Brama bernama Mantili yang mempunyai sepasang senjata ampuh yaitu Pedang Setan dan Pedang Perak. Ada pula sang tokoh antagonis bernama Lasmini. Tak lupa, Raden Bentar, Dewi Anjani, Harnum, Patih Gutawa, Kijara, dan lain-lain. Masih ingatkah nama-nama itu? Sandiwara Radio Saur Sepuh adalah buah karya Niki Kosasih. Sandiwara ini disutradarai oleh Hendra Mahendra, sedangkan pengisi suara antara lain Ferry Fadli, Ellie Ermawati, Ivone Rose, Maria Oentoe dari Sanggar Prativie dan Novia Kolopaking. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Zero | Bertanda: download, mp3, Sandiwara Radio, Satria Madangkara, Saur Sepuh | 3 Komentar »
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 12 Desember 2009
Ikuko Kawai, kelahiran 19 Januari 1968 di Takamatsu, adalah pemain biola dan komposer dari Jepang. Dia juga dikenal sebagai seorang aktris dalam sebuah serial televisi. Dia hadir telah hadir memberikan prestasi pertunjukan yang memukau di kancah internasional, termasuk pertunjukan dengan Warsawa Philharmonic Orchestra dan aksi yang genius untuk konser di Carnegie Hall Zankel Hall pada 4 Oktober 2008. Ikuko Kawai sekarang bekerja sebagai profesor di Osaka University of Arts. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Zero | Bertanda: download, Ikuko Kawai, mp3, Music, The Red Violin (2000) | 2 Komentar »
Ditulis oleh Badru Tamam Mifka di/pada 9 Desember 2009
Raden Wisang Geni, anak Arjuna dari Dewi Tunjung Biru, mencari jalan menuju Amarta, berniat menemui ayah dan saudara-saudaranya yang selama ini belum pernah ia jumpai. Di tengah perjalanan, ia berselisih dengan para petinggi Astina. Ketika mereka hampir menemui kekalahan di tangan Geni, muncullah Dorna, mencoba menghasut, mengarang cerita dan mengadu domba Wisang Geni, bahwa sang ayah dan saudara-saudaranya yang ia cari telah mati oleh Janaka (Arjuna), Purabaya (Gatotkaca), Bratasena (Bima), Samiaji (Yudistira). Dorna sendiri mengenalkan dirinya pada Geni sebagai raja Amarta dan Aswatama mengaku Bima. Dorna menghasut Geni agar merebut kembali Amarta dari tangan-tangan pembunuh ayah dan saudara-saudaranya. Berangkatlah Wisang Geni membawa dendam ke Amarta, memburu Janaka dan lainnya, yang sebenarnya mereka adalah ayahnya sendiri, Arjuna, dan saudara-saudaranya sendiri. Bagaimana cerita selengkapnya? Bagi yang belum punya, silakan download Pagelaran Wayang Golek “Arjuna Putra (Wisang Geni)” dalam format MP3. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Zero | 10 Komentar »